Tantangan Pendidikan Dalam Era Digital

SIAPA yang dididik di era digital? Siapakah manusia Indonesia masa depan? Apakah  Generasi 2045 adalah manusia Indoensia amsa depan? Apakah era digital akan mengubah pandangan tentang hakikat manusia? Atau akan mengubah pandangan tentang hakikat pendidikan dan  menggeser peran esensi guru? Jawaban atas sejumlah pertanyaan ini penting bagi arah pendidikan nasional saat ini.

Dalam perjalanan populasi abad 21 di dunia dikenal sejumlah kelompok generasi yang menentukan karakter sebuah masa. Dimulai dari sebutan generasi Baby Boomer bagi generasi kelahiran tahun 1946–1964. Generasi ini lahir setelah Perang Dunia II memiliki banyak saudara. Akibat dari banyak pasangan berani mempunyai banyak keturunan. Generasi adaptif, mudah menerima dan menyesuaikan diri dan dianggap sebagai orang lama yang mempunyai pengalaman hidup.

Fase generasi berlanjut ke sebutan Generasi X. Kelompok ini lahir tahun 1965–1980. Tahun-tahun ketika generasi itu lahir merupakan awal dari penggunaan PC (personal computer), video games, TV kabel, dan internet. Penyimpanan datanya pun menggunakan floopy disk atau disket. MTV dan video games sangat digemari. Menurut hasil penelitian Jane Deverson, sebagian dari generasi ini memiliki tingkah laku negatif. Seperti, tidak hormat kepada orang tua. Mulai mengenal musik punk, dan mencoba menggunakan ganja.

Beranjak ke Generasi Y lahir tahun 1981–1994. Dikenal dengan sebutan generasi milenial atau milenium. Ungkapan Generasi Y mulai dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat pada Agustus 1993. Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instant messaging dan media sosial seperti facebook dan twitter. Mereka juga suka main game online.

Pada tahun 1995–2010 lahir Generasi Z. Disebut juga i-Generation, generasi net atau generasi internet. Mereka memiliki kesamaan dengan generasi Y, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet, menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih, yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka.

Di tahun 2011–2025 lahir Generasi Alpha. Generasi yang lahir sesudah generasi Z. Lahir dari Generasi X akhir dan Y. Generasi yang sangat terdidik karena masuk sekolah lebih awal dan banyak belajar, dan rata-rata memiliki orang tua yang kaya.

Menurut data yang dirilis Crowd DNA, remaja generasi digital lebih memilih telepon seluler (ponsel) dibanding televisi. Presentasenya di Indonesia mencapai 69 persen, dan Asia sebanyak 60 persen. Mereka juga selalu terhubung dengan internet. Jumlahnya di Indonesia mencapai 73 persen, Asia 70 persen.

Generasi Digital lebih tahu teknologi dibanding orang tua. Jumlah di Indonesia mencapai 75 persen. Sedangkan Asia sebanyak 74 persen. Jumlah generasi digital yang suka berinteraksi di internet di Indonesia mencapai 54 persen, Asia sebanyak 55 persen. Mereka merasa ada yang kurang tanpa media sosial. Generasi yang mengalami hal seperti ini di Indonesia mencapai 69 persen, Asia sebanyak 46 persen.

Mencermati sifat dan karakter generasi masa kini muncul tiga tantangan. Pertama tantangan dalam konteks kesatuan dan keutuhan bangsa dan negara. Kedua, daya saing dan kolaborasi antarbangsa. Ketiga, mengantarkan generasi bangsa ke Generasi Emas 2045.  Siapakah Generasi Emas 2045 itu? Apakah Generasi Emas 2045 adalah generasi yang beriman dan  bertakwa kepada Allah swt Tuhan Yang Maha Kuasa, cerdas, berkarakter, tangguh, toleran, berjati diri budaya bangsa, toleran terhadap keragaman, berkecakapan abad 21, dan mendayagunakan iptek bagi kemaslahatan manusia? Dengan sosok GE 2045 seperti dirumuskan apakah hakikat atau makna pendidikan akan harus berubah?

Masih relevankah esensi pendidikan yang dirujuk saat ini untuk dimaknai dalam konteks kekinian?  Dalam Pasal 1 (1) UU Nomor 20/2003 disebutkan, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan (sebagai landasan dan tujuan hidup). pengendalian diri (kecakapan dalam memilih  mengambil keputusan, dan tanggung jawab), kepribadian ( sebagai warga negara, warga global, dan warga yang toleran), kecerdasan (dalam memilih, beretika, cermat, kreatif, inovatif, dan pekerja keras), berakhlak mulia ( berperilaku baik dan benar) serta keterampilan (secara kognitif dan psikomotorik diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pemaknaan atas rumusan pendidikan di atas menunjukkan bahwa esensi dan makna pendidikan yang dirujuk selama ini tetap relevan dengan esensi dan makna pendidikan bagi manusia di era digital. Esensi pendidikan tidak berubah, tapi pemaknaan diberikan secara kontekstual. Demikian pula hakikat manusia tidak berubah, melainkan difahami dan difasilitasi untuk berkembang dalam konteks yang berbeda.

Diadaptasi dari Griffin, Patrick: 2012, memasuki abad 21 sejumlah kecakapan mutlak dimiliki seseorang. Dilihat dari cara berpikir perlu kreatif, inovatif, kritis, dan memiliki pemecahan masalah. Dari segi cara bekerja bisa berkomunikasi dan berkolaborasi. Dari sisi bekerja mampu berliterari informasi dan teknologi informasi. Dari segi hidup sebagai penduduk dunia harus bisa berinteraksi dengan warga lokal dan global, memiliki  tanggungjawab, karir dan kesadaran budaya. Sejumlah kecakapan ini diperlukan untuk  menunjang terwujudnya hidup sejahtera.

 Tantangan Belajar Generasi Era Digital

Belajar saat ini adalah belajar tentang masa depan. Belajar dalam konsep dan kurva belajar 2.0, 4.0 dst,  Pendidikan harus diselenggarakan sejalan dengan tuntutan  belajar untuk dan tentang masa depan. Daya kompetitif dalam ekonomi global bergantung pada pembelajaran dan pendidikan yang inovatif dan kreatif.

Proses pebelajaran harus berkembang dengan cepat. Tidak lagi memaksakan cara mendidik 100 tahun lalu dilakukan saat ini. Ketersediaan terabyte informasi dari revolusi digital sangat penting untuk masa depan.

Begitupun dalam perang bakat. Pasar bakat global paling baik dicirikan oleh pergeseran kekuatan dari organisasi, pengusaha hingga bakat karyawan. Ada lebih banyak permintaan untuk kecerdasan global dan setiap organisasi berjuang untuk bakat. Masa depan bergantung pada mendapatkan hak ini dan menarik tenaga kerja yang akan membuat organisasi terdepan.

Hal ini selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goal (SDG) yang digariskan UNESCO. Terdiri atas, tanpa kemiskinan. Tanpa kelaparan. Kehidupan sehat dan sejahtera. Pendidikan berkualitas. Kesetaraan gender. Air bersih dan sanitasi layak. Energi bersih dan terjangkau.

UNESCO dipercaya memimpin pencapaian Global Education 2030 Agenda melalui Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-4/SDG 4. Roadmap untuk pencapaian tujuan ini telah ditetapkan dalam Kerangka Acuan Kerja Pendidikan 2030/Education 2030 Framework for Action (EFA).

Dalam konteks pendidikan nasional tujuan SDG di bidang pendidikan masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya, target yang belum selesai dari agenda EFA dan MDGs di bidang pendidikan, dan membahas tantangan pendidikan global dan nasional. Hak asasi manusia dan martabat; penyertaan; perlindungan; keragaman budaya, linguistik dan etnis; dan tanggung jawab dan akuntabilitas bersama.

Pendidikan adalah barang publik, hak asasi manusia yang fundamental dan dasar untuk menjamin terwujudnya hak-hak lainnya. Pendidikan sangat penting untuk perdamaian, toleransi, pemenuhan manusia dan pembangunan berkelanjutan. Pendidikan sebagai kunci untuk mencapai pemberdayaan kerja dan pemberantasan secara penuh. Aksesibilitas, pemerataan dan inklusi, kualitas dan hasil belajar, dalam pendekatan pembelajaran sepanjang hayat untuk semua.

Sisi Lain Generasi Era Digital

Perilaku kekerasan yang kerap terjadi pada remaja berentang dari perilaku verbal sampai tindakan fisik. Perilaku kekerasan (violent behavior) terwujud dalam buli, gosip, mengancam, mengucilkan, mengolok-olokan, memanggil dengan nama panggilan yang melecehkan, memukul, menendang dan sebagainya. Kenakalan seperti ini bisa menimbulkan konflik, perkelahian, tekanan psikologis, sampai kepada bunuh diri.

Perilaku kekerasan di kehidupan sekolah seperti ini acapkali dilakukan tidak hanya oleh siswa ke siswa. Tapi juga oleh guru ke siswa. Perilaku kekerasan akan menumbuhkan kultur kehidupan sekolah yang tidakaman dan damai dan tidak kondusif bagi perkembangan kepribadian peserta didik.

Kultur sekolah semacam itu tidak akan mendukung penumbuhan karakter. Sementara karakter tumbuh sebagai proses internalisasi nilai dan tidak sebatas tataran pemahaman konsep secara kognitif.

Karakter dan perilaku damai tumbuh melalui dan di dalam atmosfir sekolah yang dikembangkan melalui proses pembelajaran ataupun kegiatan di luar kelas.

Dalam konteks ini peran guru tidak bisa digantikan oleh teknologi, melainkan guru harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat bekerja di dalam mengembangkan kultur pendidikan yang menumbuhkan kpribadian peserta didik.

Apa yang Terjadi dengan Gaya Kognitif Siswa?

Gaya kognitif dan tren perilaku kekerasan di antara anak kelas 4-5 menunjukkan cenderung menjadi gaya yang tidak berdiferensiasi yang menggambarkan proses berpikir linier, dikotomis, dan lebih menggunakan otak belahan kiri. Ada kepercayaan normatif dalam gaya kognisi anak bahwa kekerasan dibenarkan untuk dibalas. Pola perilaku atau tindakan balas dendam cenderung dilakukan dengan reaksi agresi dan tindakan fisik.

Predisposisi pemikiran seperti yang dijelaskan di atas sangat berbahaya bagi persatuan nasional, harmoni internasional dan kehidupan umat manusia. Kecenderungan dalam perilaku kekerasan, radikalisme, dan konflik dapat dicegah melalui pengembangan pemikiran nir-kekerasan yang saling tergantung melalui upaya pendidikan sejak masa kanak-kanak

 Tanggung Jawab Pendidikan

Memperhatikan tantangan-tantangan yang digambarkan, kolaborasi tanggungawab pendidikan antara keluarga, sekolah, dan masyarakat semakin harus diperkuat. Di era digital tak akan tampak lagi batas-batas antara pendidikan dalam keluarga, sekolah dan masyarakat.

Proses dan sumber belajar terjadi di mana-mana dalam diversifikasi yang sangat terbuka. Pendidikan bukan monopoli sekolah dan pendidikan memerlukan keberpihakan dan kehadiran negara di dalam penyelenggaraannya.

Pendidikan bertanggungjawab di dalam memelihara dan mengembangkan kesatuan dan persatuan bangsa. Mengembangkan cara berpikir dan keckapan hidup damai, sebagai kesatuan di dalam keragaman.  Kedamaian sebagai kondisi optimum keadaan damai (state of being peace) yang dinamis dan berdaya adaptasi secara adekuat terhadap perubahan lingkungan.

Kondisi optimum keadaan damai terjadi pada individu yang akan menumbuhkan kedamaian diri, pada kelompok sosial yang akan menumbuhkan kedamaian sosial, dan pada bangsa dan Negara yang akan menumbuhkan kedamaian bangsa dan negara.

Pendidikan kedamaian merupakan salah satu komponen penting dalam garapan pendidikan. Sebagai sebuah proses raihan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai nilai  yang diperlukan agar terbinanya perilaku masyarakat. Termasuk generasi muda dan peserta didik untuk senantiasa menghindari terjadinya konflik dan kekerasan pada lingkungannya. Kemudian mereka mampu untuk merendam konflik yang terjadi secara damai, dan menciptakan kondisi kondusif bagi upaya terjadinya kedamaian, baik secara intrapersonal, interpersonal, intergroup, structural baik pada tingkat nasional ataupun internasional.

Pada situasi seperti ini diperlukan guru untuk memfasilitasi peserta didik sadar akan nilai-nilai  budayanya dan hidup sebagai warga global dengan jati diri budaya sendiri. Terangkum dalam nilai kehidupan orang Sunda, antara lain  hirup gaya jeung gaya hirup, dan cageur, bageur, bener, pinter, singer tur motekar.

Dalam mendukung terciptanya sebuah nilai prestasi mutu, kerja keras, tanggung jawab, kebaikan, kejujuran, toleransi, dan kemerdekaan. Ditopang dengan semangat agama, nasionalisme, otonomi, kerjasama timbal balik dan integritas. Ini semua ikut ditentukan oleh suasana kelas, budaya sekolah, etika guru dan semangatnya. Maka, tantangan bagi pendidikan guru dari kompetensi ke misi adalah misi itu sendiri. Lalu, jati diri  negosiasi antara rongga pribadi dan profesi, kompetensi, perilaku dan lingkungan.

*Alumni SPGN Ciamis 1970

Rektor UPI 2005-2010 & 2010-2015

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here