557

Pendidikan Karakter Tak Sekadar Menyentuh Sopan Santun

Sosialisasi Penerapan Jabar Masagi Wilayah Bandung

Jabar Masagi
FOTO-FOTO: ERIEK TAOPIK/JABAR EKSPRES
PENDIDIKAN KARAKTER: Wakil Ketua Tim Persiapan dan Pelaksanaan Jabar Masagi Dinas Pendidikan Jawa Barat Firman Oktora (kiri), narasumber dan Tim Perumus Jabar Masagi Erwan Nizwarudin M, PubPol MGt (paling kanan) saat berfoto bersama elemen murid, guru, kepala sekolah di usai sosialisasi Jabar Masagi wilayah Bandung, Jumat (7/12).

LEMBANG – Pendidikan ka­rakter melalui Jabar Masagi terus disosialisasikan. Harapannya, awal 2019 mendatang mulai ada proses pengaplikasian Jabar Mas­agi di sekolah.

Dari pantauan, unsur pendidi­kan dari empat wilayah: Kabu­paten Cianjur, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi ikut dalam sosiali­sasi Jabar Masagi wilayah Bandung di Grand Hotel Lembang, Kabupaten Bandung Barat. FGD tersebut bagian dari sosialisasi Jabar Masagi setelah diluncurkan Gubernur Jawa Barat Rid­wan Kamil di Cirebon.

jabar masagi --
BUKA ACARA: Wakil Ketua Tim Persiapan dan Pelaksanaan Jabar Masagi Dinas Pendidikan Jawa Barat Firman Oktora (kanan), narasumber dan Tim Perumus Jabar Masagi Erwan Nizwarudin M, PubPol MGt saat mendiskusikan Jabar Masagi.

Jalannya FGD wilayah Bandung ber­jalan cukup atraktif. Para guru diajak untuk berbaur bersama murid untuk melakukan sejumlah games nilai-nilai kebaikan. Tidak hanya itu, jalannya diskusi juga banyak mendengarkan kepentingan siswa sebagai objek pro­gram Jabar Masagi.

Wakil Ketua Tim Persiapan dan Pe­laksanaanJabar Masagi Dinas Pendidikan Jawa Barat Firman Oktora mengatakan, para peserta terdiri dari Kepala sekolah, guru, siswa, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Tata Usaha, Pengawas hingga Komite Sekolah. ”Intinya, kami berharap tahapan sosialisasi tersebut bisa tersampaikan dengan baik. Program pendidikan karakter Jabar Masagi ini bukan untuk sehari atau dua hari,” kata Firman kepada Jabar Ekspres, di sela-sela sosialisasi, kemarin.

jabar masagi
DIBAWA ENJOY: Narasumber dan Tim Perumus Jabar Masagi Erwan Nizwarudin M, PubPol MGt saat memaparkan program pendidikan karakter Jabar Masagi.

Karena belum semua ele­men pendidikan di Jawa Barat familiar dengan Jabar Masagi, maka para peserta pun diminta narasumber sekaligus tim perumus Jabar Masagi Erwan Nizwarudin M, PubPol MGt memetakan masalah non akademis da­lam ekosistem sekolah. Baik itu siswa, guru hingga ke­pala sekolah.

Dari empat kelompok yang melakukan diskusi, ada beberapa masalah yang kerap muncul. Seperti kesiangan ke sekolah. Kasus kesiangan dinilai men­jadi hal yang umum terjadi di sekolah.

”Faktor penyebab mereka kesiangan terjadi karena berinteraksi di media sosial. Sebanyak 90 persen mengaku begitu,” kata Insan, guru perwakilan dari kelompok satu.

Meski demikian, masalah waktu itu juga tidak lantas sepenuhnya menya­lahkan peserta didik. Sebab, guru dan kepala sekolah sebagai panutan juga berpengaruh besar pada kedisiplinan siswa. ”Memang tidak dipungkiri, guru pun kerap telat. Apalagi ketika pergan­tian kelas,” sambungnya.

Siti Fatimah dari SMK 2 Cianjur me­wakili kelompok tiga mengungkapkan, tidak bisa dipungkiri jika praktik bul­lying itu masih ada di setiap sekolah. Hanya saja penekanannya berbeda-beda tergantung wilayah. ”Bullying tumbuh besar di media sosial karena mereka tidak bisa mengekspresikan kekesalan mereka di lingkungan. Ke­napa bahasanya jadi kasar? Sebab yang bertindak lebih banyak jempol ketimbang otaknya,” kata Siti.

Narasumber Erwan Nizwarudin M, PubPol MGt mengatakan, ada salah satu masalah yang hampir sama ketika bersinggungan dengan masalah non akademik adalah masalah sopan san­tun. Yang kelas di atas, atau yang lebih tua merasa perlu dihargai. Trennya masalah sopan santun. Posisi yang di atas harus dihargai.

”Berkaitan dengan tata tertib hingga kini umumnya masih dibahas. Esensi­nya ada di area banyak orang yang ingin dihargai berdasarkan tingkatan. Tapi, berbicara prilaku dan pendidikan karakter, tentu tidak hanya sekadar itu,” urainya.

Menurut dia, permasalah pendidikan karakter juga menyinggung banyak hal. Salah satunya potensi peserta didik yang beragam namun banyak disera­gamkan.

Terkait sosialisasi Jabar Masagi, kata dia, sebenarnya masih panjang. Dan akan ada strategi lebih diperbesar un­tuk meraih jangkau lebih besar.

”Sebab, Jabar Masagi nantinya tidak hanya menyentuh ekosistem sekolah, tapi juga masyarakat,” paparnya.

Terkait teknis, dalam waktu dekat akan ada seleksi sekolah percontohan dari tiga wilayah budaya: Sunda, Cirebonan dan Betawi. ”Selanjutnya ke 13 wilayah KCD (Kantor Cabang Dinas, Red),” pungkasnya. (rie)

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.