Adjat: Satu Untuk Sebelas, Sebelas Untuk Satu

3
PERSIB.CO.ID
UNTUK PERSIB: Direktur Permata Bank Syariah Achmad K. Permana (tengah) saat memandu mini talk show Doa Bersama untuk Kebangkita Persib bersama Raphael Maitimo (kiri), Herrie Setyawan, leganda Persib Bandung Adjat Sudrajat (kedua dari kanan) dan personel Moka di Graha Persib Bandung, Jalan Sulanjana, Kota Bandung, kemarin (7/9).

jabarekspres.com, BANDUNG – Sejumlah pemain Persib Bandung larut dalam Doa Bersama untuk Kebangkitan Persib Bandung saat peluncuran Permata Syariah Persib Debit Plus ”bersama anak yatim, di Graha Persib, Jalan Sulanjana, kemarin (7/9). Doa bersama tersebut menjadi lebih khidmat karena hadirnya legenda Persib Ajat Sudrajat.

Terlihat pemain Persib seperti Atep Rizal, Michael Essien, Maitimo, Herrie Setyawan. Sebelum doa bersama digelar, mereka pun melakukan bincang-bincang ringan dipandu Achmad K. Permana, yang tak lain Direktur Permata Bank Syariah.

”Doa Bersama untuk Kebangkitan Persib Bandung ini kami juga ingin ikut berpartisipasi mendukung kebangkitan Persib. Dengan memberikan dukungan spiritual seperti ini, kami berharap pelatih dan pemain dapat memberikan prestasi terbaiknya. Sehingga dapat membawa Persib Bandung kembali ke posisi puncak,” papar Achmad, kemarin.

Achmad yang juga bobotoh Persib mengaku, sempat tertekan dengan prestasi Persib yang terlempar dari sepuluh besar Liga 1. Namun, seiring berjalannya waktu, permainan Persib kembali bergairah dan bisa menduduki posisi sembilan klasemen.

”Pertanyaannya, ari kamari kamana wae Persib teh? (kalau kemarin kemana saja Persib) koq baru terlihat bagus saat ini,” tutur Achmad sambil disambut tepuk tangan para tamu undangan.

Dia lantas bercerita tentang kejayaan Persib di masa Ajat Sudrajat. Dan dalam penilainnya, Persib saat itu terlihat sangat tangguh.

Menyikapi komentar tersebut sang legenda Adjat Sudrajat mengatakan, Persib saat ini sudah lebih baik. Namun, juga tidak lepas dari kritik karena fluktuasi permainan yang cenderung tak stabil.

Dia mengatakan, dia dan rekan-rekannya dahulu lebih dari sekadar militan dalam loyalitasnya membela Persib. ”Mati pun kami siap demi kejayaan Maung Bandung saat itu,” tegasnya.

Bagaimana hal itu lantas tumbuh? Adjat mengaku, menerapkan pola satu untuk sebelas dan sebelas untuk satu. Artinya, kebersamaan dalam internal Persib itu menjadi hal yang utama demi tujuan kemenangan.

”Jadi tidak ada cerita hanya jago di kandang. Bila perlu perlu berantem di luar kandang ya dulu saya jalani demi Persib,” tuturnya.

”Oleh karena itu penting sekali menumbuhkembangkan kebersamaan dalam tim. Spalagi cukup banyak pemain bertalenta baik saat ini. Sehingga prestasi terbaik dapat menjadi goal atau tujuan bersama dalam musim kompetisi ini,” sambung Adjat.

Raphael Maitimo juga menjadi sorotan kemarin. Dia menjadi satu pemain yang berhasil mencetak hattrick saat melawan Gresik United mengaku, soliditas pemain sudah sangat terjaga. Dia berharap, semua bisa menjaga hal itu.

”Dan saya pun diberikan kesempatan untuk mencetak gol oleh coach Jose (Herrie Setyawan, Red).

Menyikapi buruknya penampilan Persib di paruh pertama, Herrie Setyawan mengatakan, sepeninggal Djadjang Nurjaman Persib memang saat itu krisis pemain depan. Makanya, skema yang dijalankan adalah semua bisa bermain menyerang.

”Semua bisa jadi striker. Dan itu bisa dibuktikan saat ini,” ucapnya.

Di sisi lain Atep Rizal, kapten Persib mengatakan, kehadiran para senior kami seperti Kang Adjat Sudrajat sungguh membanggakan. ”Legenda Persib di masanya tersebut tentunya dapat memotivasi kami untuk bermain lebih baik dan solid. Utamanya militansi dan loyalitasnya dalam membela Persib,” jelas Atep.

Dia juga berharap, semoga doa bersama untuk Kebangkitan Persib Bandung bersama anak yatim tersebut mendapatkan berkah. ”Sehingga kami dapat bermain dengan semangat kebersamaan dan militan,” tandasnya.

Sebagai gambaran, Persib yang awalnya merupakan perserikatan amatir akhirnya menjadi klub professional setelah terbentuknya sebuah badan hukum bernama PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB) pada akhir Desember 2008. Sejak saat itu, Persib tidak lagi mendapatkan kucuran dana pengelolaan dari pemerintah. Melainkan dari pengelolaan usaha di bawah naungan PT PBB.

Seiring berjalannya waktu, PT PBB berhasil menjadi salah satu pengelola klub professional terbaik di Indonesia. Profesionalitas membawa prestasi cukup membaik pada KompetisiLiga Super Indonesia I/2008-2009.

Untuk kali pertama Persib diracik pelatih local dari luar Bandung Jaya Hartono yang membawa Persik Kediri menggondol Piala LI IX/2003 dipanggil melatih Persib. Pada era Jaya, Persib meraih peringkat tiga dalam kompetisi yang menggunakan format satu wilayah.

Setelah puasa gelar selama 19 tahun, Persib akhirnya menjadi juara Liga Super Indonesia 2014 di bawah kendali pelatih lokal, Djadjang Nurdjaman. Persib mengalahkan Persipura Jayapura melalui drama adu penalti babak final di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang.

Selain mempersembahkan gelar juara Liga Indonesia untuk kedua kali, Djadjang juga mengukir rekor sebagai legenda hidup karena berhasil mengantarkan Persib menjadi juara sebagai pemain, asisten pelatih, dan pelatih kepala.

Di tengah suramnya situasi sepakbola dalam negeri akibat konflik Pemerintah dengan PSSI, Persib sempat membubarkan tim namun kemudian kembali berkumpul dan sanggup  menjaga marwah sebagai tim elite Tanah Air. Maung Bandung tampil sebagai juara turnamen bergengsi Piala Presiden 2015. Pada babak final, tim asuhan Djadjang Nurdjaman mengalahkan Sriwijaya FC, 2-0.

Namun, kegemilangan pada ajang pengisi kekosongan liga itu tidak berlanjut pada turnamen selanjutnya, Piala Jenderal Sudirman, langkah Persib terhenti hanya di babak fase grup. Pada 2016, Persib menempati peringkat ketiga pada liga TSC 2016 dan Piala Presiden 2016. (rie)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here