Republik Kambing Hitam: Kambing Hitam dan Musuh Imajiner.

Republik Kambing Hitam: Kambing Hitam dan Musuh Imajiner.
Foto: Aksi Mahasiswa dan lapisan masyarakat di Tugu tani, Jakarta (20/10/2026) sumber: X
0 Komentar

JABAR EKSPRES- Kekuasaan begitu rajin mencari sumber ancaman di luar dirinya, tetapi seolah kehilangan kemampuan untuk melihat kesalahan yang berada di dalam lingkarannya sendiri.

Di Republik Kambing Hitam, pemerintah tidak pernah kehabisan musuh. Yang lebih sering kehabisan justru jawaban.

Harga kebutuhan pokok naik? Ada pihak yang mengganggu. Kebijakan dipertanyakan? Ada yang dianggap tidak memahami kepentingan nasional. Janji belum terpenuhi? Mungkin ada kekuatan yang menghalangi. Apa pun masalahnya, selalu tersedia kemungkinan bahwa penyebabnya berada di luar kekuasaan yang seharusnya menyelesaikannya.

Baca Juga:Jangan Jadikan Adaptasi sebagai Dalih: Karhutla, Tanggung Jawab Negara, dan Amanah Menjaga HutanKAMMI Wilayah Jawa Barat Desak Pengusutan Tuntas Pabrik Obat Keras Ilegal di Kopo

Sungguh efisien. Mengurus negara membutuhkan anggaran, kompetensi, dan hasil yang bisa diperiksa. Mengurus musuh cukup membutuhkan tuduhan yang diulang sampai terdengar seperti kebenaran.

Pada poin ini, kambing hitam menemukan fungsi politiknya.

Kambing hitam tidak perlu menyelesaikan masalah, cukup mengambil alih perhatian.

Kambing hitam tidak harus terbukti bersalah, cukup dibuat layak dicurigai.

Setelah itu, pihak yang semula dituntut menjelaskan kegagalan dapat mengubah posisinya: dari terdakwa dalam pemeriksaan publik menjadi tokoh yang mengaku sedang menyelamatkan negara.

Dalam ilmu kebijakan publik, R. Kent Weaver (1986) menjelaskan blame avoidance, yaitu kecenderungan politisi menghindari kesalahan dan konsekuensi politik dari keputusan yang tidak populer. Salah satu strateginya adalah scapegoating, yakni menimpakan kesalahan kepada pihak lain. Gagasan ini membantu menjelaskan mengapa pengalihan tanggung jawab dapat menjadi pilihan politik yang rasional bagi penguasa, meskipun tidak menyelesaikan persoalan publik.

Masalahnya, strategi yang menguntungkan secara politik belum tentu menguntungkan masyarakat. Kekuasaan dapat memperoleh waktu, perhatian, bahkan dukungan dari narasi tentang ancaman, sementara persoalan yang menjadi tanggung jawabnya tetap tidak terselesaikan.

Dengan kata lain, ada perbedaan antara keberhasilan mengendalikan persepsi dan keberhasilan memperbaiki keadaan. Yang pertama dapat dicapai melalui pidato. Yang kedua membutuhkan perubahan yang hasilnya bisa diuji.

Republik Kambing Hitam tampaknya tidak selalu mampu membedakan keduanya.

Musuh tidak harus diciptakan dari ketiadaan

Cara kerja politik musuh lebih rumit daripada sekadar mengarang ancaman. Ancaman bisa nyata, tetapi skalanya dibesar-besarkan. Kritik bisa keliru, tetapi kemudian diperlakukan sebagai bukti permusuhan. Perbedaan kepentingan bisa wajar, tetapi dikemas seolah-olah merupakan serangan terhadap negara.

0 Komentar