KPAID Tasikmalaya Ingatkan Bahaya Medsos Usai Siswi SMK Diduga Jadi Target Pengantin Pesanan

Tasikmalaya Ingatkan Bahaya Medsos Usai Siswi SMK Diduga Jadi Target Pengantin Pesanan
Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto. Foto/Video : Hendi
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kasus dugaan siswi SMK asal Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, yang diduga menjadi target pengantin pesanan warga negara asing (WNA) asal China menjadi peringatan serius bagi orang tua.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya mengingatkan keluarga agar lebih waspada terhadap pergaulan anak di ruang digital.

Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto, menilai perkembangan media sosial yang begitu cepat membuat pola pergaulan anak semakin sulit dipantau jika orang tua tidak ikut beradaptasi dengan perubahan zaman.

Baca Juga:Cekcok Berujung Maut di Tanjungjaya Tasikmalaya, Korban Dibacok Golok dan Dihantam BatuTerungkap! Siswi SMK di Tasikmalaya Diduga Jadi Target Pengantin Pesanan WNA China

Peringatan tersebut disampaikan Ato setelah mengikuti ekspose kasus hilangnya DL (16) di Mapolres Tasikmalaya, Kamis (15/10/2026).

Dalam kesempatan itu, ia juga mengapresiasi gerak cepat kepolisian yang berhasil menemukan korban dan mengungkap dugaan adanya upaya eksploitasi anak melalui skema pengantin pesanan.

“Saya mengapresiasi kinerja Polres Tasikmalaya yang sigap dan cepat mengungkap kasus, sehingga korban bisa kembali ke keluarganya,” kata Ato.

Menurutnya, keberhasilan mengungkap kasus orang hilang, termasuk tiga kasus terakhir yang ditangani dengan cepat, menunjukkan pentingnya kehadiran polisi dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat.

Terlebih, di balik kasus orang hilang, terdapat potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan korban.

Namun, bagi Ato, kasus DL juga menyisakan persoalan yang tak kalah penting, yakni bagaimana anak bisa menjalin hubungan dengan orang asing melalui media sosial hingga diduga berujung pada situasi yang membahayakan dirinya.

“Perkembangan media sosial sudah melebihi kecepatan logika orang tua. Sehingga para orang tua harus bisa beradaptasi dengan cepat,” ujarnya.

Baca Juga:Jelang Hari Santri 2026, Bupati Cecep Mulai Safari Ziarah Ulama TasikmalayaTiga Kasus Orang Hilang di Tasikmalaya Terungkap, Polisi Beberkan Kuncinya

Ato menjelaskan, interaksi anak saat ini tidak lagi terbatas pada lingkungan sekolah, tempat tinggal, atau pertemanan secara langsung. Melalui telepon genggam, anak dapat berkomunikasi dengan siapa saja, bahkan dengan orang yang berada di luar negeri.

Karena itu, orang tua perlu memahami platform digital yang digunakan anak, mengenali pola pergaulannya, serta membangun komunikasi yang terbuka agar anak tidak mudah terjebak dalam hubungan yang berisiko.

“Pergaulan saat ini tidak hanya tatap muka. Hanya dengan gawai saja sudah dapat berinteraksi dengan orang dari mana saja, termasuk mancanegara seperti yang terjadi di kasus anak SMK tersebut,” tuturnya.

0 Komentar