KPAID Tasikmalaya Ingatkan Bahaya Medsos Usai Siswi SMK Diduga Jadi Target Pengantin Pesanan

Tasikmalaya Ingatkan Bahaya Medsos Usai Siswi SMK Diduga Jadi Target Pengantin Pesanan
Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto. Foto/Video : Hendi
0 Komentar

Meski demikian, pengawasan terhadap anak, menurut Ato, tidak cukup dilakukan dengan membatasi penggunaan telepon genggam atau melarang anak berinteraksi di media sosial. Orang tua juga perlu membangun kedekatan emosional agar anak merasa aman untuk bercerita ketika menghadapi persoalan atau menerima tawaran mencurigakan dari orang yang dikenal di dunia maya.

Ia menegaskan, keluarga merupakan benteng pertama dalam perlindungan anak. Sementara itu, tanggung jawab untuk memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang aman tetap membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari masyarakat hingga lembaga terkait.

“Perlindungan terhadap anak memang menjadi tanggung jawab semua pihak, tapi benteng pertama adalah orang tua dan keluarga. Mari kita sama-sama aware terhadap situasi dan perkembangan zaman yang dapat membahayakan anak,” ajaknya.

Baca Juga:Cekcok Berujung Maut di Tanjungjaya Tasikmalaya, Korban Dibacok Golok dan Dihantam BatuTerungkap! Siswi SMK di Tasikmalaya Diduga Jadi Target Pengantin Pesanan WNA China

Sebelumnya, DL dilaporkan hilang setelah berpamitan membeli makanan dari tempat tinggalnya di Kecamatan Bantarkalong. Polisi kemudian menemukan remaja tersebut di Apartemen Tokyo PIK 2, Tangerang, pada Minggu (11/10/2026) dini hari.

Dalam pengungkapan kasus tersebut, polisi menduga DL berangkat ke Tangerang untuk menunggu seorang pria WNA asal China yang dikenalnya melalui media sosial. Polisi juga menemukan dugaan aliran dana dari pria tersebut untuk membiayai perjalanan korban.

Polisi masih mendalami perkara tersebut, termasuk dugaan rencana pengantin pesanan dan kemungkinan keterlibatan pihak lain. Karena korban masih berusia 16 tahun, pendampingan dan pemulihan psikologis menjadi bagian penting setelah ia kembali ke keluarganya.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap anak tidak selalu datang dari lingkungan terdekat. Di tengah kemudahan komunikasi digital, perhatian, komunikasi terbuka, dan pendampingan orang tua menjadi kunci agar anak mampu mengenali risiko serta berani meminta pertolongan ketika menghadapi situasi yang membahayakan. (Hen)

Reporter: Hendi

0 Komentar