Bertahun-tahun Tak Tersentuh Pembangunan, Jalan Citatah-Pasegan di KBB Bikin Warga Waswas

tanah dan bebatuan. Dok warga
Seorang pengendara sepeda motor tengah melintas di jalan bebatuan daerah Bandung Barat/ Istimewa
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Jalan tanah dan bebatuan masih menjadi akses sehari-hari bagi warga di tujuh RW yang berada di Desa Cipatat dan Desa Citatah, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Pasalnya, ruas Jalan Citatah-Pasegan sepanjang lima kilometer itu hingga kini belum mendapatkan pembangunan permanen. Kondisi tersebut menghambat mobilitas warga, aktivitas ekonomi, hingga akses pendidikan dan layanan kesehatan.

Ketua RW 20 Desa Cipatat, Tepen, mengatakan, ruas Jalan Citatah-Pasegan belum pernah mendapatkan pembangunan permanen sejak dahulu. Kondisi jalan yang tak kunjung berubah membuat warga terus bergantung pada akses yang jauh dari layak.

Baca Juga:Terungkap! Siswi SMK di Tasikmalaya Diduga Jadi Target Pengantin Pesanan WNA ChinaJateng Akan Dijadikan Role Model Penanganan Tuberkulosis

“Jadi bukan rusak, tapi memang belum dibangun sejak dahulu. Mungkin seumur hidup saya, jalan ini masih belum tersentuh perbaikan,” kata Tepen saat dihubungi, Kamis (15/10/2026).

Ia menuturkan, kondisi jalan semakin membahayakan ketika diguyur hujan. Permukaan tanah menjadi licin dan kendaraan yang melintas kerap kehilangan kendali hingga pengendara terjatuh. Situasi tersebut membuat warga harus ekstra hati-hati saat melewati jalur itu.

“Kalau hujan licin banget. Kalau banyak yang melintas juga, sering jatuh, sering banget,” ujarnya.

Tepen menyebut, jalan tersebut menjadi akses utama bagi warga di tujuh RW, yakni dua RW di Desa Cipatat dan lima RW di Desa Citatah. Dengan kondisi jalan yang belum memadai, masyarakat di kedua desa harus menghadapi persoalan serupa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dampak jalan yang belum dibangun juga dirasakan dalam kegiatan perekonomian. Kendaraan yang melintas tidak jarang mengalami mogok akibat kondisi permukaan jalan yang tidak rata dan dipenuhi bebatuan. Akibatnya, perjalanan menjadi lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama.

Di sektor pendidikan, para pelajar harus melewati jalan tersebut setiap hari. Padahal, jarak menuju sekolah tingkat menengah relatif jauh, sementara fasilitas pendidikan yang tersedia di kawasan Pasegan hanya sekolah dasar. Kondisi ini menambah beban perjalanan siswa, terutama ketika cuaca tidak bersahabat.

“Jalan ini juga jadi alternatif dari Cipatat menuju Kecamatan Saguling. Jadi harapan saya jalan ini dibangun, dicor permanen,” ucapnya.

0 Komentar