Lawan Dominasi Gadget, Disarpusda Cimahi Ubah Perpustakaan Jadi Ruang Literasi Interaktif

Kepala Disarpusda Kota Cimahi Dyah Ajuni Lukitosari (mong)
Kepala Disarpusda Kota Cimahi Dyah Ajuni Lukitosari (mong)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Upaya meningkatkan minat baca masyarakat terus dilakukan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Disarpusda) Kota Cimahi. Di tengah kebiasaan masyarakat, khususnya generasi muda yang semakin dekat dengan gadget, perpustakaan kini dikembangkan menjadi ruang publik yang lebih menarik, interaktif, dan ramah anak.

Salah satu inovasi yang dilakukan adalah menghadirkan layanan bioskop mini serta program Tour Library Fantastic di Perpustakaan Umum Kota Cimahi. Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil dengan meningkatnya jumlah kunjungan masyarakat.

Kepala Disarpusda Kota Cimahi Dyah Ajuni Lukitosari mengatakan, kinerja urusan perpustakaan diukur melalui dua indikator utama, yakni Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM).

Baca Juga:Youth Fest 2026 KNPI Tasikmalaya, Pemuda Diajak Unjuk PotensiRencana Lanjutan Pembangunan SOR Mangunreja, DPRD : Anggaran Besar, Tak Boleh Asal Jadi!

Menurutnya, penilaian tersebut tidak hanya melihat tingkat kunjungan masyarakat, tetapi juga mencakup pengelolaan perpustakaan, mulai dari sarana dan prasarana hingga kualitas sumber daya manusia.

“Pada prinsipnya, kinerja kita itu dilihat dari sejauh mana tingkat kegemaran membaca dari masyarakat,” ujar Dyah saat diwawancarai Jabar Ekspres di ruang kerjanya, Jum’at (9/10/26).

Untuk mendukung peningkatan literasi, Disarpusda Kota Cimahi mengelola Perpustakaan Umum Kota Cimahi yang kini berada di kawasan Alun-Alun Cimahi serta perpustakaan mini di Mal Pelayanan Publik.

Selain itu, akses bacaan juga tersedia melalui perpustakaan sekolah, Taman Baca Masyarakat, dan layanan Perpustakaan Keliling atau Pusling.

Dari sisi capaian literasi, Dyah menjelaskan bahwa pengukuran IPLM dilakukan setiap tahun melalui pendataan dan survei. Pada 2026, Disarpusda menargetkan peningkatan indeks dibandingkan capaian tahun sebelumnya.

“Jadi kalau di tahun 2025, IPLM kita itu ada di angka 16,15. Untuk tahun 2026 ini, kita targetkan di 17,15,” katanya.

Ia menjelaskan, proses penghitungan IPLM melibatkan pendataan berbagai jenis perpustakaan, termasuk perpustakaan sekolah tingkat SD dan SMP. Data yang dikumpulkan kemudian disampaikan kepada Perpustakaan Nasional (Perpusnas) sebagai lembaga yang berwenang melakukan penghitungan.

Baca Juga:Renovasi Stadion Kaliki Dilanjutkan, Aktivis dan KONI Desak Standar PSSICegah Risiko Gempa, Rapid Indonesia, Semut Tangsel, dan IEA Edukasi Siswa PKBM Binar

Tahun ini, proses penilaian juga dilengkapi dengan bukti pendukung atau evidence untuk memastikan kesesuaian data yang dilaporkan.

“Jadi kita menginputkan data-data, kemudian baru tahun ini kita harus melampirkan eviden. Artinya mereka akan memverifikasi betul tidak data di isian kuesioner yang kita sampaikan, itu dibuktikan dengan eviden-eviden,” jelasnya.

0 Komentar