Selain itu, pemerintah juga berupaya mengurangi hambatan ekonomi. Reni menegaskan, persoalan biaya tidak boleh menjadi alasan anak berhenti mendapatkan pendidikan.
Dukungan bagi keluarga kurang mampu serta bantuan dan dukungan operasional bagi pendidikan kesetaraan terus diberikan sesuai kebutuhan.
Tak hanya mengejar jumlah anak yang kembali belajar, Dinas Pendidikan Kota Cimahi juga berupaya meningkatkan kualitas pendidikan nonformal.
Baca Juga:Ribuan Anak Tak Sekolah di Cimahi, Ini Penyebab dan PersoalannyaDisdik Cimahi Evaluasi Polemik Seragam Sekolah, 7 SMP Negeri Belum Sosialisasi
“PKBM didorong agar tidak lagi dipandang sebagai sekolah alternatif kelas dua, melainkan sebagai jalur pendidikan yang setara,” tutur Reni.
Selain itu, Reni mengatakan penguatan sarana pembelajaran, penyediaan laptop, papan tulis interaktif hingga revitalisasi fasilitas terus dilakukan. Peserta didik PKBM juga didorong untuk memiliki kesempatan berprestasi dan mengikuti berbagai kegiatan pelajar resmi.
Dengan berbagai strategi tersebut, Pemkot Cimahi menargetkan seluruh ATS yang telah teridentifikasi dapat tertampung melalui pendidikan formal maupun pendidikan kesetaraan. Targetnya, pada 2027 tidak ada lagi anak yang terlepas dari layanan pendidikan hanya karena tidak terjangkau sistem.
Namun, penanganan ATS di Kota Cimahi masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu yang cukup berat adalah menjangkau anak yang sudah bekerja.
Reni menerangkan, anak yang telah memperoleh penghasilan atau membantu perekonomian keluarga tentu tidak mudah diminta kembali mengikuti sekolah dengan jadwal reguler.
“Karena itu, pendidikan kesetaraan dengan waktu belajar yang lebih fleksibel menjadi salah satu pilihan utama. Pendekatan serupa juga diperlukan bagi anak yang sudah kehilangan minat bersekolah,” bebernya.
Menurut Reni, rendahnya minat sekolah justru menjadi tantangan terbesar karena persoalannya tidak hanya berkaitan dengan biaya. Anak yang sudah lama meninggalkan sekolah membutuhkan pendekatan personal dan pendampingan secara berkelanjutan agar kembali memiliki kemauan untuk belajar.
Baca Juga:Generasi Emas Terancam? Irma Beberkan Dampak Gadget terhadap Perkembangan Anak di CimahiMPLS Ramah Anak, Badut Sulap Lapangan SD di Cimahi Jadi Ruang Belajar yang Menghibur
Persoalan semakin kompleks ketika ATS juga menghadapi masalah keluarga maupun sosial. Kondisinya dapat berkaitan dengan ekonomi, pengasuhan, pernikahan usia anak, pekerjaan, kesehatan hingga lingkungan sosial.
“Karena itu diperlukan koordinasi dengan kecamatan/kelurahan dan perangkat daerah lain yang menangani urusan sosial, kependudukan, kesehatan, serta pemberdayaan masyarakat,” tandasnya. (Mong)
