Ribuan Anak Tak Sekolah di Cimahi Jadi Sorotan, Disdik Kejar Target Tuntas 2027

Ribuan Anak Tak Sekolah di Cimahi Jadi Sorotan, Disdik Kejar Target Tuntas 2027
Ilustrasi Siswa Sekolah Dasar. (Foto: Dimas/Jabar Ekspres)
0 Komentar

Selain rendahnya minat sekolah, persoalan lain yang turut memengaruhi angka ATS di Kota Cimahi adalah kondisi ekonomi keluarga, anak yang memilih bekerja, pernikahan usia anak, hingga persoalan keluarga.

Reni menilai, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan anak tidak sekolah di Cimahi tidak semata-mata disebabkan persoalan biaya pendidikan. Pemerintah telah menyediakan berbagai bentuk dukungan bagi keluarga kurang mampu.

Tantangan yang lebih besar justru muncul ketika anak sudah kehilangan motivasi belajar atau memilih bekerja.

Baca Juga:Ribuan Anak Tak Sekolah di Cimahi, Ini Penyebab dan PersoalannyaDisdik Cimahi Evaluasi Polemik Seragam Sekolah, 7 SMP Negeri Belum Sosialisasi

“Anak perlu didekati secara personal, didampingi, diberikan pilihan pendidikan yang fleksibel, dan diyakinkan kembali bahwa pendidikan memiliki manfaat bagi masa depannya,” tutur Reni.

Untuk menekan jumlah ATS sekaligus memastikan mereka kembali mendapatkan layanan pendidikan pada 2027, Dinas Pendidikan Kota Cimahi tidak hanya mengandalkan data administratif.

Pendataan dilakukan bersama aparatur kecamatan, kelurahan hingga lingkungan kewilayahan, kemudian disinkronkan dengan portal ATS.

Langkah tersebut dinilai penting agar intervensi pemerintah benar-benar menyasar anak yang masih berada di Kota Cimahi dan membutuhkan layanan pendidikan. Pada pendataan 2025, terdapat 1.509 anak yang terdata.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 775 anak atau sekitar 51 persen menyatakan bersedia kembali bersekolah, sementara 556 anak menyatakan berminat mengikuti pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C.

Upaya penanganan juga dilakukan dengan pendekatan jemput bola. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dilibatkan untuk mendatangi langsung rumah anak ATS. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pembelajaran, tetapi juga membangun kembali motivasi anak yang sudah enggan kembali ke sekolah.

Dari 556 anak yang menyatakan berminat mengikuti pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C, hingga Juni 2026 tercatat 40 anak telah kembali bersekolah melalui PKBM.

Baca Juga:Generasi Emas Terancam? Irma Beberkan Dampak Gadget terhadap Perkembangan Anak di CimahiMPLS Ramah Anak, Badut Sulap Lapangan SD di Cimahi Jadi Ruang Belajar yang Menghibur

Pendidikan kesetaraan juga terus diperluas karena tidak semua anak ATS dapat langsung kembali ke sekolah formal. Bagi anak yang sudah bekerja atau memiliki kondisi tertentu, program Paket A, Paket B, dan Paket C dinilai dapat memberikan pola belajar yang lebih fleksibel.

“Anak tidak harus selalu kembali ke sekolah formal. Untuk anak yang sudah bekerja atau memiliki kondisi khusus, tersedia Paket A, Paket B, dan Paket C dengan pola belajar yang lebih fleksibel,” jelasnya.

0 Komentar