JABAR EKSPRES – Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Hermawan, mengklaim stabilitas beras premium akan tetap terjaga meski ada penarikan produk beras fortifikasi yang bermasalah.
Hal itu juga diungkapkannya, usai terjadinya keterbatasan stok beras premium di sejumlah ritel modern pascapengungkapan 25 merk beras yang diklaim sebagai fortifikasi bermasalah.
“Kalau terkait beras premium, itu stoknya ada di pasar tradisional. Jadi beras premium dan medium di pasar tradisional itu banyak,” ujarnya, mengutip ANTARA, Senin (5/10/2026).
Baca Juga:Dugaan Tambang Ilegal di Wapoga Dilaporkan ke Satgas PKH, Masyarakat Menanti Tindak LanjutNgariung di Pos Ronda, Polisi Buka Ruang Warga Mangunreja Sampaikan Keluhan Kamtibmas
Namun demikian, ia juga mengakui pasokan beras premium di ritel modern ikut terganggu. Itu mengingat sejumlah produsen pemasok produk tersebut yang tidak diperbolehkan lagi untuk memproduksi usai penindakan.
Ia menyebut bahwa situasi itu sangat rentan dimanfaatkan oknum nakal, dengan menaikkan harga beras premium setelah produsen menghentikan peredaran produk bermasalah.
Kendati begitu, Hermawan memastikan stok beras premium dan medium di pasar tradisional tetap tersedia, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap pemenuhan kebutuhan beras.
Berdasarkan pemantauan Bapanas bersama Satgas Pangan Polri di Pasar Induk Beras Cipinang Jakarta, harga beras premium tingkat distributor tercatat sekitar Rp14.200 per kilogram.
Harga tersebut masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium Zona I (Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, NTB, Sulawesi) sebesar Rp14.900 per kilogram, sehingga kondisi perdagangan beras premium dinilai masih terkendali.
Hermawan menyebut persoalan pasokan lebih terlihat pada ritel modern, karena adanya potongan penjualan yang membuat margin produsen menjadi lebih terbatas dibandingkan pasar tradisional.
Hasil pengawasan terhadap 25 merek beras fortifikasi bermasalah juga membuat 11 produsen melakukan penarikan stok dari ritel modern sambil menunggu evaluasi Satgas Pangan Polri.
Baca Juga:Pencarian Nelayan Cipatujah Masih Nihil, Tim Gabungan Terkendala Ombak BesarDua Nelayan Cipatujah Hilang, Perahu Terbalik Dihantam Ombak Besar
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah mengumumkan 25 merek beras fortifikasi yang melanggar administrasi, nilai gizi, dan mutu. Adapun dari 25 merek beras fortifikasi yang bermasalah tersebut dimiliki oleh 11 pelaku usaha.
Selama bulan Juli sampai Agustus 2026, Bapanas telah melakukan pengawasan terhadap peredaran beras fortifikasi di 11 provinsi. Hasilnya terkumpul sebanyak 190 sampel beras fortifikasi yang beredar di pasaran yang mewakili 27 nama dagang.
