JABAR EKSPRES – Pasar sayur di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, mulai lesu setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan sementara selama masa libur sekolah.
Kondisi ini berdampak langsung pada turunnya permintaan berbagai komoditas sayuran dari tingkat petani hingga pedagang di pasar tradisional.
Para pedagang mengaku penurunan permintaan cukup signifikan sejak program tersebut berhenti berjalan sementara. Salah satunya dirasakan Atep, pedagang sayuran di Pasar Lembang, yang menyebut omzetnya turun hingga separuh.
Baca Juga:Polres Tasikmalaya Turun Tangan Percantik Alun-Alun Singaparna, Gaungkan Semangat Indonesia AsriMahasiswa Ditemukan Tewas di Semak-semak Ciseeng, Polisi Masih Selidiki Penyebab Kematian
“Pengaruhnya besar sekali. Sejak MBG ditutup sementara, omzet dan daya jual turun. Sekitar 50 sampai 60 persen,” kata Atep, Selasa (23/6/2026).
Ia menjelaskan, saat program MBG berjalan, kebutuhan pasokan sayuran bisa mencapai satu ton per hari. Namun kini turun drastis menjadi sekitar 3-4 kuintal per hari.
“Kalau dulu bisa sampai satu ton per hari, sekarang paling 3 sampai 4 kuintal karena permintaan berkurang,” ujarnya.
Penurunan permintaan itu juga berdampak pada kenaikan harga sejumlah komoditas seperti timun, wortel, buncis, dan kubis.
“Timun yang sebelumnya sekitar Rp5.000 per kilogram sekarang menjadi Rp10.000 sampai Rp14.000. Wortel dan buncis juga naik dari sekitar Rp6.000 jadi Rp12.000 sampai Rp14.000 per kilogram,” ungkapnya.
Kenaikan juga terjadi pada sejumlah bumbu dapur seperti bawang merah dan bawang putih yang kini mencapai Rp40.000 per kilogram dari sebelumnya Rp30.000.
Dampak serupa dirasakan pemasok ayam potong di Lembang, Totoh, yang menyebut distribusi ke pasar tradisional turun hingga 70 persen.
Baca Juga:Tasikmalaya Jadi Tuan Rumah Jambore Nasional Overlanding 2026, Usung Misi Sosial dan LingkunganGodzilla El Nino Mengintai, BPBD: Hampir Seluruh Wilayah Kabupaten Bogor Berpotensi Terdampak Kekeringan
“Biasanya kebutuhan sekitar 25 ton per hari untuk pasar Lembang, sekarang hanya sekitar 9 ton. Jadi turun sekitar 16 ton per hari,” kata Totoh.
Ia menilai keberadaan program MBG memberikan efek ekonomi berantai yang cukup besar, mulai dari petani, peternak, hingga pasar tradisional.
“Manfaat MBG sangat terasa. Menggerakkan banyak sektor dari hulu sampai hilir. Sekarang saat berhenti sementara sampai 12 Juli, dampaknya langsung terasa di pasar yang jadi lebih sepi,” ujarnya. (Wit)
