Imbas Kemarau Panjang, Produksi Ikan di Bandung Barat Anjlok 902 Ton

Imbas Kemarau Panjang, Produksi Ikan di Bandung Barat Anjlok 902 Ton
Ilustrasi: Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail saat menebar benih ikan di perairan Waduk Saguling. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Ketersediaan air yang terus menyusut di tengah kemarau panjang mulai berdampak pada sektor perikanan Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Produksi ikan dari keramba jaring apung (KJA) di Waduk Saguling dan Cirata turun 902 ton dalam setahun.

Berdasarkan data Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, produksi ikan KJA pada triwulan I 2025 mencapai 9.922 ton. Namun, pada periode yang sama 2026, produksinya turun menjadi 9.020 ton.

Baca Juga:Tingkatkan Inklusi Keuangan Syariah di Jawa Barat, BCA Syariah Hadirkan “Jemput Berkah” di BCA Expo Bandung76 Dapur MBG di Bandung Barat Belum Kantongi SLHS

Penurunan tersebut setara sekitar 9,1 persen. Kondisi serupa juga terjadi pada budidaya ikan di kolam air tenang yang produksinya ikut tertekan akibat keterbatasan sumber air.

Kepala Dispernakan KBB, Wiwin Aprianti mengatakan, kemarau panjang membuat pembudidaya harus menghadapi keterbatasan air yang menjadi salah satu faktor penting dalam kegiatan budidaya ikan.

“Kalau ketersediaan air terus menurun, otomatis ruang untuk kegiatan budidaya juga terbatas. Kondisi ini pada akhirnya berpengaruh terhadap produktivitas pembudidaya,” kata Wiwin, Senin (14/9/2026).

Menurutnya, penurunan debit air terjadi di sejumlah sumber air, mulai dari sungai, kolam hingga waduk. Kondisi tersebut membuat luas maupun volume area yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya ikut berkurang.

“Dampaknya bukan hanya pada luas atau volume tempat budidayanya, tetapi juga pada jumlah ikan yang bisa dipelihara. Karena itu, hasil produksi dan panennya ikut terdampak,” ujarnya.

Wiwin memperkirakan, penurunan produksi ikan akibat kondisi tersebut secara umum berada di kisaran 10 hingga 20 persen, meski besarannya berbeda-beda tergantung kondisi sumber air dan jenis budidayanya.

“Secara umum penurunannya sekitar 10 sampai 20 persen. Tetapi tentu setiap lokasi bisa berbeda, karena sangat bergantung pada kondisi air dan pola budidayanya,” jelasnya.

Baca Juga:Abu Vulkanik Diduga Sampai Bandung Barat, Warga Diimbau Pakai MaskerDua Tahun Menanti, GPS Bandung Akhirnya Wujudkan Mimpi Tampil di DBL

Sementara itu, produksi ikan dari kolam air tenang pada triwulan I 2025 tercatat sebanyak 1.550 ton. Angka tersebut turun menjadi 1.290 ton pada periode yang sama 2026.

Dengan demikian, produksi ikan kolam air tenang berkurang 260 ton atau sekitar 16,8 persen dalam setahun.

Wiwin menambahkan, kondisi tersebut menjadi gambaran bagaimana perubahan ketersediaan air dapat langsung memengaruhi sektor perikanan. Jika kemarau berkepanjangan, pembudidaya harus menyesuaikan kapasitas produksi dengan kondisi sumber air yang tersedia.

0 Komentar