JABAR EKSPRES – Kemarau panjang membuat debit air yang masuk ke Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, anjlok drastis.
Sepanjang Agustus 2026, inflow waduk hanya 10-18 meter kubik per detik, jauh di bawah kondisi musim hujan.
Sejumlah bagian waduk yang sebelumnya terendam air kini mulai terlihat seiring menyusutnya permukaan air. Meski pasokan air berkurang drastis, kondisi Waduk Saguling saat ini masih berada dalam batas aman untuk mendukung operasional pembangkit listrik.
Baca Juga:Menyeberangi Saguling Demi SekolahPLTS Saguling Jadi Andalan Kejar Target Energi Surya 100 GWp
Manajer Sipil PLTA Saguling, Praja Mukti Ediatmaja mengatakan, debit air yang masuk ke Waduk Saguling selama Agustus berada pada kisaran 10 hingga 18 meter kubik per detik.
“Debit air masuk selama Agustus berkisar 10-18 meter kubik per detik. Padahal, saat puncak musim penghujan, debitnya bisa mencapai 155-200 meter kubik per detik,” kata Praja melalui keterangan resminya, Rabu (16/9/2026).
Saat ini, ketinggian permukaan air Waduk Saguling berada di sekitar 638 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara batas bawah operasi waduk pada musim kemarau berada di level 636 mdpl.
Dengan kondisi tersebut, posisi air masih sekitar dua meter di atas batas bawah operasi dan belum masuk kategori kritis. Namun, kondisi ini tetap menjadi perhatian karena musim kemarau diperkirakan masih berlangsung cukup panjang.
Praja menjelaskan, penurunan debit air tidak serta-merta membuat PLTA Saguling berhenti beroperasi. Penggunaan air untuk pembangkitan listrik disesuaikan dengan kebutuhan sistem kelistrikan yang ditetapkan oleh PLN.
“Secara pola operasi pada musim kemarau, PLTA Saguling masih dapat memenuhi kebutuhan pembangkitan sesuai dispatch dari PLN Pengatur Beban,” ujarnya.
Untuk menjaga ketersediaan air, pengoperasian Waduk Saguling hingga Jatiluhur terus dikoordinasikan melalui Tim Koordinasi Pengoperasian Bendung Kascade Citarum (TKPBKC).
Baca Juga:Waduk Saguling Menyusut, Lahan Bekas Genangan Jadi Ladang Rezeki WargaNelayan Hilang di Waduk Saguling Ditemukan Meninggal
Tim tersebut melibatkan BBWS Citarum sebagai koordinator, PLN Indonesia Power, PLN Nusantara Power, Perum Jasa Tirta II, serta BMKG.
Koordinasi dilakukan untuk mengatur pemanfaatan air dari Waduk Saguling hingga Jatiluhur agar tetap dapat memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari pembangkitan listrik, pengairan hingga air minum.
“Debit air keluar dari Waduk Saguling sampai Jatiluhur terus dikoordinasikan dan diatur agar kebutuhan pengairan, listrik, air minum dan kebutuhan lainnya tetap dapat terpenuhi,” kata Praja.
