Meskipun kalender dan metode hisab sudah dapat memberikan gambaran mengenai kapan Ramadan dimulai, tanggal resmi awal puasa di Indonesia tetap menunggu keputusan pemerintah.
Kementerian Agama menggunakan proses penetapan yang melibatkan pendekatan hisab dan rukyat.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, mengatakan perbedaan metode fikih dalam menentukan awal bulan merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Islam di Indonesia.
Baca Juga:Data Desil Tidak Sesuai Kondisi Ekonomi? Ini Cara Ubah Desil Lewat HPKekeringan Melanda RI, BMKG Sebut El Nino Bukan Satu-satunya Penyebab
Namun, dalam konteks kehidupan bernegara, diperlukan satu keputusan resmi yang dapat menjadi rujukan bersama.
“Dalam konteks bernegara tetap harus ada satu panduan yang kita pegang bersama,” ujar Arsad dalam Syariah Insight Room Seri 7, Jumat (21/8/2026), seperti dikutip dari situs Kemenag.
Menurutnya, keberadaan sidang isbat dan pengumuman resmi Menteri Agama dibutuhkan antara lain untuk memberikan kepastian dan menjadi rujukan bersama bagi masyarakat.
Apa Itu Hisab dan Rukyat?
Dalam proses penentuan awal bulan Hijriah, terdapat dua istilah penting yang perlu dipahami, yaitu hisab dan rukyat.
Hisab merupakan perhitungan astronomis untuk mengetahui posisi Bulan dan berbagai parameter yang berkaitan dengan pergantian bulan Hijriah.
Sementara rukyat merupakan proses pengamatan hilal untuk melihat keberadaan Bulan sabit muda sebagai bagian dari proses penentuan awal bulan.
Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah Kemenag, Ismail Fahmi, menjelaskan bahwa penetapan awal bulan Hijriah dilakukan dengan pendekatan hisab dan rukyat secara terpadu.
Baca Juga:Daftar Negara Terkaya Asia 2026, RI Ada di Posisi SeginiBakal Ada 9 Fenomena Langit Sepanjang September 2026, Berikut Daftarnya
Dengan pendekatan tersebut, hasil perhitungan astronomis dapat menjadi bahan pertimbangan yang kemudian diverifikasi melalui proses rukyat.
Mengapa Tanggal Puasa Bisa Berbeda?
Perbedaan tanggal awal Ramadan di sejumlah kalender tidak selalu berarti salah satu perhitungan keliru.
Perbedaan tersebut dapat muncul karena adanya perbedaan metode, kriteria, maupun pendekatan dalam menentukan masuknya bulan baru Hijriah.
Di Indonesia sendiri, proses penyusunan kalender Hijriah melibatkan berbagai pihak, termasuk organisasi kemasyarakatan Islam, ahli ilmu falak dan astronomi, perguruan tinggi, serta instansi terkait.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut bertujuan memastikan kalender yang disusun memiliki dasar ilmiah sekaligus dapat menjawab kebutuhan masyarakat.
