JABAR EKSPRES – Tingkat keterisian tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) di RSUD Oto Iskandar Di Nata (Otista) Kabupaten Bandung mengalami kenaikan signifikan dalam tiga pekan hingga satu bulan terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya kedatangan pasien anak di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Kondisi tersebut juga telah diumumkan secara resmi melalui akun Instagram RSUD Otista. Pihak manajemen menginformasikan bahwa kapasitas IGD dan ruangan rawat inap saat ini berada dalam kondisi padat, yang berimplikasi pada bertambahnya waktu tunggu pelayanan, pemeriksaan, hingga ketersediaan bed rawat inap.
Meski demikian, pihak rumah sakit memastikan penanganan bagi pasien gawat darurat tetap berjalan sesuai prosedur dan tingkat kegawatdaruratannya.
Baca Juga:Perkuat Layanan Jantung, RSUD Welas Asih Hadirkan CPET, Cathlab hingga Rawat Inap VVIPParkir Rp7 Ribu di RSUD KHZ Musthafa Bikin Warga Geram, DPRD Akhirnya Turun Tangan
Direktur RSUD Otista, Yuli Irnawaty Mosjasari, mengonfirmasi bahwa sebagian besar pasien anak yang masuk IGD mengeluhkan demam tinggi yang disertai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta gangguan pencernaan seperti diare.
Menurutnya, lonjakan ini tak hanya terjadi di RSUD Otista, melainkan juga di sejumlah rumah sakit rujukan lainnya.
“Iya, memang belakangan ini meningkat keterisian tempat tidur, rawat inap seiring dengan meningkatnya pasien ke IGD, khususnya kasus anak,” ujar Yuli saat dikonfirmasi, Senin (28/9/2026).
Imbas dari penuhnya fasilitas kesehatan rujukan lain, pihak RSUD Otista harus menerapkan pola penanganan bergantian.
“Sehingga hampir semua IGD penuh, kami pun merujuk juga sama penuh rumah sakit lain. Akhirnya ya kita menunggu mobilisasi pasien dari rawat inap yang bisa keluar, bisa sudah pulang baru bisa masuk yang dari IGD,” kata Yuli menambahkan.
Yuli membeberkan bahwa angka kunjungan IGD di RSUD Otista saat ini melonjak hingga berada di kisaran 100 sampai 120 pasien per hari, naik dari rata-rata normal yang biasanya berkisar antara 70 hingga 80 pasien.
Secara gambaran umum, akumulasi pasien IGD dalam sebulan terakhir bahkan mencapai dua kali lipat dibanding bulan sebelumnya.
Baca Juga:RSUD Otista Soreang Minta Maaf Usai Viral Dugaan Penolakan Pasien IGD, Akui Kondisi Sedang PenuhPolemik Nama RSUD Cibabat, Wali Kota Cimahi, Ngatiyana Tegaskan Keputusan Berdasarkan Kajian PanjangÂ
Di samping faktor kenaikan kasus penyakit, Yuli menguraikan bahwa kepadatan IGD juga dipengaruhi oleh dinamika psikologis pasien.
Berdasarkan prosedur triase (merah, kuning, hijau), pasien kategori hijau sebenarnya dikategorikan dapat menjalani rawat jalan dan kontrol berkala via poliklinik.
