“Tetapi jangan milih kualitasnya. Kalau mau milih kualitasnya, nah itu ikut mekanisme pasar,” katanya.
Dengan demikian, pemerintah memastikan fokus utama Bulog adalah menjaga ketersediaan beras bagi masyarakat, bukan menyediakan seluruh variasi kualitas beras yang diinginkan konsumen.
Farhan mengatakan masyarakat yang ingin mendapatkan beras dengan kualitas tertentu dapat mencarinya melalui pasar modern maupun jalur perdagangan yang mengikuti mekanisme pasar.
Baca Juga:Mahasiswa POLSUB Ciptakan Kopi Robusta Rendah Kafein dari Limbah Kulit dan Bonggol NanasJenguk Wartawan yang Terbaring Sakit, Kapolres Tasikmalaya Bawa Pesan Kepedulian
“Belanjanya di mana? Tentu saja di pasar-pasar modern. Jangan di pasar tradisional,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah membedakan antara persoalan ketersediaan pangan dan pilihan kualitas pangan.
Untuk memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap beras, pemerintah mengandalkan peran Bulog. Sementara kebutuhan terhadap jenis atau kualitas beras tertentu diserahkan kepada mekanisme pasar.
Bagi Pemkot Bandung, yang paling penting adalah memastikan tidak terjadi kelangkaan beras dan masyarakat tetap memiliki akses terhadap bahan pangan pokok tersebut.
Dengan stok Bulog yang disebut masih aman, pemerintah berharap kebutuhan beras masyarakat Bandung dapat tetap terpenuhi. Sementara bagi konsumen yang memiliki preferensi terhadap beras premium, pilihan tersebut tetap tersedia melalui mekanisme perdagangan normal di pasar. (Dam)
