JABAR EKSPRES – Pemprov Jawa Barat meningkatkan patroli berkala untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di puncak musim kemarau, tujuannya agar karhutla tak meluas dan menekan dampaknya.
Karhutla memang masih menjadi salah satu ancaman serius di Jawa Barat pada musim kemarau seperti saat ini. Berdasarkan data BPBD Jabar per 10 Agustus 2026, setidaknya terjadi 90 karhutla di 72 kecamatan di Jawa Barat.
Kebakaran karhutla terbanyak terjadi di Kabupaten Sumedang dengan 16 kejadian. Lalu Kabupaten Majalengka 11 kejadian dan Kabupaten Bandung 8 kejadian.
Baca Juga:Kemenkeu Perkuat Pengawasan Anggaran Program MBG di DaerahTantan Sulthon Bukhawan Terpilih Pimpin PWI Jabar 2026–2031, Oland Sibarani Kembali Nahkodai Dewan Kehormatan
Berkaitan dengan itu, Dinas Kehutanan juga bergerak untuk berupaya menekan kejadian. “Yang jelas kami berupaya mengintensifkan patroli berkala di wilayah rawan, ” kata Kepala Dinas Kehutanan Dodit Ardian, Kamis (13/8).
Dalam patroli itu juga berupaya untuk memantau kondisi tutupan hutan, menggalakkan sosialisasi edukatif, serta memperkuat koordinasi lintas sektor demi meminimalkan risiko karhutla. Kebakaran dicegah seminimal mungkin.
Dodit melanjutkan, pihaknya tentu tak bisa bergerak sendiri. Karena itu ia juga mengajak masyarakat agar ikut aktif dalam upaya penanganan kebakaran itu.
Warga diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, menghindari pembakaran sampah di sekitar kawasan hutan. Termasuk memastikan sisa api unggun padam sempurna, dan tidak membuang puntung rokok sembarangan.
“Jika menemukan indikasi atau titik api, segera melapor ke instansi terdekat, ” cetusnya.
Menurut Dodit, Kewaspadaan ekstra ini krusial mengingat cuaca kering, curah hujan rendah, serta penurunan kadar air vegetasi membuat kawasan hutan dan lahan sangat rentan terbakar. Sebagian besar kejadian karhutla di Indonesia tercatat akibat kelalaian dan aktivitas manusia.
Dampak karhutla tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga mengancam habitat satwa liar, merusak kualitas tanah, mempercepat emisi gas rumah kaca, serta memicu asap yang menurunkan kualitas udara bagi kesehatan warga–khususnya anak-anak dan lansia. “Hutan perlu dijaga bersama, ” terangnya. (son)
