Bandung Kebanyakan Bicara Insinerator, Pemilahan Sampah dari Hulu Justru Terabaikan

lustrasi pengolahan sampah di TPST Tegallega Kota Bandung. (Dimas/JE)
lustrasi pengolahan sampah di TPST Tegallega Kota Bandung. (Dimas/JE)
0 Komentar

Kritik serupa disampaikan Aktivis Lingkungan Bandung Hijau, Suwatno. Ia menilai persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan dengan memperbanyak mesin pengolahan.

“Insinerator itu bukan jawaban untuk semua persoalan sampah. Kita harus bicara dari mana sampah itu berasal dan bagaimana sampah tersebut dikurangi,” kata Suwatno.

Menurut Suwatno, pemerintah perlu memperkuat gerakan pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga, sekolah, pasar, kawasan komersial hingga perkantoran. Pemilahan tersebut harus dibarengi dengan infrastruktur pengelolaan yang memadai.

Baca Juga:Rachmat Irianto, Wajah Manusiawi Persebaya JuaraPemkab Tasikmalaya Kebut Perbaikan Jalan, Warga Diminta Ikut Menjaga agar Tak Cepat Rusak

Ia juga menilai edukasi kepada masyarakat harus diikuti dengan penegakan aturan. Sebab, selama ini persoalan pemilahan sampah masih kerap berhenti pada kampanye dan imbauan.

“Kalau hanya masyarakat yang terus disuruh memilah, sementara sistemnya belum siap, itu tidak akan efektif. Harus ada perubahan sistem dari pemerintah,” ujarnya.

Suwatno mengatakan, pemerintah juga perlu memperbesar porsi pengolahan sampah organik di tingkat kawasan maupun masyarakat. Sampah organik yang mendominasi timbulan sampah rumah tangga semestinya dapat dikurangi melalui komposting atau metode pengolahan lain sebelum masuk ke fasilitas pengolahan akhir.

Menurutnya, semakin sedikit sampah yang harus diangkut dan diolah secara terpusat, semakin ringan pula beban fasilitas pengolahan sampah.

“Jangan hanya berpikir bagaimana sampah yang sudah banyak itu dibakar atau diolah. Yang lebih penting adalah bagaimana jumlah sampah yang masuk ke sistem itu bisa dikurangi sejak awal,” katanya.

Baik Achmad maupun Suwatno sepakat bahwa keberadaan insinerator dan rencana PSEL tetap dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan sampah. Namun, keduanya meminta Pemkot Bandung tidak kehilangan fokus terhadap upaya pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber.

Mereka menilai keberhasilan sistem persampahan Bandung seharusnya tidak hanya diukur dari berapa banyak mesin pengolah sampah yang tersedia, tetapi juga dari seberapa banyak sampah yang berhasil dikurangi, dipilah, didaur ulang, dan tidak berakhir di tempat pembuangan akhir. (Dam)

0 Komentar