Angka Stunting Kota Bandung Masih 22,8 Persen, Farhan: Harus Berani Akui Masalah agar Ada Solusi

Angka Stunting Kota Bandung Masih 22,8 Persen, Farhan: Harus Berani Akui Masalah agar Ada Solusi
Ilustrasi: Seorang anak mendapatkan pelayanan puskesmas untun pencegahan stunting. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

Selain intervensi pemerintah, ia berharap masyarakat turut berperan aktif dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, memperhatikan sanitasi rumah tangga, serta memastikan kebutuhan gizi ibu hamil dan anak terpenuhi dengan baik.

Senada dengan Wali Kota Bandung, Ahli Gizi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Wirawan, menilai penanganan stunting tidak cukup hanya berfokus pada pemenuhan asupan gizi. Menurutnya, perbaikan sanitasi dan perilaku hidup bersih juga menjadi faktor penting dalam mencegah gangguan pertumbuhan pada anak.

“Stunting merupakan persoalan yang dipengaruhi banyak faktor. Gizi yang baik harus didukung lingkungan yang sehat, akses air bersih, dan sanitasi yang memadai. Jika anak terus terpapar infeksi akibat sanitasi yang buruk, penyerapan zat gizi dapat terganggu sehingga risiko stunting tetap tinggi meskipun intervensi gizi telah diberikan,” ujar Wirawan.

Baca Juga:Stunting Cimahi Masih Jadi Perhatian, 2.668 Balita Masuk Kategori RisikoLayanan dan Edukasi Diperkuat, Partisipasi Warga Jadi Kunci Tekan Stunting

Ia menambahkan, upaya menurunkan prevalensi stunting memerlukan kolaborasi lintas sektor. Selain peningkatan layanan kesehatan, pemerintah juga perlu memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai pola makan bergizi, kebersihan lingkungan, serta pentingnya sanitasi yang layak.

“Karena itu, intervensi harus dilakukan secara terpadu. Pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, hingga masyarakat perlu bergerak bersama agar upaya pencegahan stunting dapat memberikan hasil yang optimal,” katanya. (Dam)

0 Komentar