Jabar Ekspres – Selama hampir 25 tahun, Oneng Nurbayanti, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Bandung Barat, berjuang mencari jalan untuk kembali ke Indonesia.
Perempuan berusia 51 tahun asal Kampung Cangkuang RT 02 RW 04, Desa Karanganyar, Kecamatan Cililin itu diduga mengalami penyiksaan sejak bekerja di Kuwait pada tahun 2000.
Setelah melarikan diri dari majikannya, Oneng justru berpindah ke Mesir dan kembali menjadi korban kekerasan. Hingga kini, ia belum berhasil pulang ke Tanah Air.
Baca Juga:JNE Gelar JLC Member Gathering Perdana di Bandung, Bekali Pelaku Usaha Strategi Bisnis dan Perluas JejaringDukung Transisi Energi Nasional, Bio Farma Gandeng PGN Group Manfaatkan CNG di Fasilitas Produksi
Kisah Oneng viral setelah putrinya, Eka Kania (28), mengunggah video permohonan bantuan kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melalui media sosial TikTok. Video tersebut dibuat sebagai upaya keluarga agar pemerintah membantu menemukan dan memulangkan Oneng ke Indonesia.
Eka menuturkan, ibunya berangkat ke Kuwait pada tahun 2000 melalui perusahaan penyalur tenaga kerja. Namun belakangan keluarga mengetahui perusahaan yang memberangkatkan Oneng diduga tidak memiliki izin resmi.
“Selama bekerja di Kuwait, ibu saya tidak pernah menerima gaji dan sering mengalami kekerasan dari majikannya. Karena sudah tidak kuat, beliau akhirnya memutuskan melarikan diri,” kata Eka saat dihubungi, Kamis (16/7/2026).
Pelarian tersebut justru membuat Oneng ditangkap aparat setempat. Menurut Eka, saat itu ibunya diberi pilihan untuk dipulangkan ke Indonesia atau tetap tinggal di Kuwait. Karena tidak memiliki biaya untuk pulang dan tidak mengetahui harus meminta bantuan kepada siapa, Oneng memilih bertahan.
Dalam kondisi tersebut, Oneng kemudian berkenalan dengan seorang pria berkewarganegaraan Mesir yang mengaku dapat membantu memulangkannya ke Indonesia. Pria itu meminta Oneng menikah dengannya dengan janji akan mengurus kepulangannya.
“Karena percaya, ibu saya akhirnya menikah. Tetapi setelah menikah, beliau bukan dipulangkan ke Indonesia, melainkan dibawa ke Mesir. Di sana ibu saya kembali mengalami penyiksaan dan diperlakukan seperti budak,” ujar Eka.
Selama berada di Mesir, komunikasi Oneng dengan keluarganya sangat terbatas. Eka mengaku ibunya kerap menjadi korban kekerasan apabila diketahui mencoba menghubungi keluarga di Indonesia.
Baca Juga:Kapolres Tasikmalaya Pererat Soliditas dengan Kodim 0612, Komitmen Jaga Keamanan Wilayah BersamaKapolres Tasikmalaya Pererat Soliditas dengan Kodim 0612, Komitmen Jaga Keamanan Wilayah Bersama
“Ibu saya sangat sulit berkomunikasi. Kalau ketahuan memegang telepon atau menghubungi keluarga, beliau kembali mengalami penyiksaan,” tuturnya.
