Demi Bertahan di Tengah Krisis Air, Warga Bubulak Bogor Endapkan Air Sungai yang Keruh 

Demi Bertahan di Tengah Krisis Air, Warga Bubulak Bogor Endapkan Air Sungai yang Keruh 
BPBD Kota Bogor saat menyalurkan 8.000 liter air bersih kepada warga di wilayah Kampung Bubulak RT 001/RW 012, Kelurahan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor yang terdampak kekeringan, Rabu (15/7/2026). Foto: Sekar Andini
0 Komentar

Saat persediaan air semakin terbatas, Muti bahkan mengaku harus mencari cara agar air yang tersedia tetap bisa dimanfaatkan.

Salah satunya dengan mengolah air sungai yang keruh terlebih dahulu sebelum digunakan.

Air sungai tersebut didiamkan selama beberapa jam hingga kotorannya mengendap, kemudian disaring agar lebih bersih.

Baca Juga:Kapolres Tasikmalaya Pererat Soliditas dengan Kodim 0612, Komitmen Jaga Keamanan Wilayah BersamaKapolres Tasikmalaya Pererat Soliditas dengan Kodim 0612, Komitmen Jaga Keamanan Wilayah Bersama

Cara tersebut terpaksa dilakukan demi mendapatkan air, karena jika membeli air isi ulang secara terus-menerus dinilai akan menambah beban pengeluaran keluarga.

“Airnya dituang ke ember, didiamkan saja dan ditutup, jangan diaduk-aduk. Nanti kotorannya turun sendiri ke bawah. Setelah itu airnya disaring, baru kami berani pakai. Itu buat kebutuhan sehari-hari, ya mau gimana lagi, demi bisa bertahan. Beli air isi ulang juga kan lumayan ah, sayang uang,” ucapnya.

Sementara warga lainnya, Umi (51). Ia datang ke lokasi bantuan air bersih dengan membawa 13 galon kosong menggunakan gerobak untuk menambah persediaan air bagi tujuh anggota keluarganya.

“Ini bawa 13 galon. Sebenarnya enggak terlalu cukup sih buat tujuh anggota keluarga di rumah, tapi lumayan bantuan air bersih ini buat nambah stok air,” ujar Umi.

Meski telah mendapat bantuan air bersih, Umi menyebut keluarganya tetap harus mencari persediaan tambahan air untuk memenuhi kebutuhan hingga hari berikutnya atau menunggu bantuan air bersih berikutnya datang.

Ia mengatakan, sejak sumur di rumahnya mengering sekitar dua bulan terakhir imbas kemarau, Umi bersama keluarganya harus bolak-balik mengambil air dari sumur di MCK hingga malam hari.

Namun, ketersediaan air di MCK juga terbatas. Ketika banyak warga menggunakan fasilitas tersebut secara bersamaan, debit air ikut menurun bahkan terkadang habis sehingga warga harus menunggu beberapa waktu hingga air kembali tersedia.

Baca Juga:Dinda Kirana Tampil Beda di Wajah Cinta Yang Lain, Balas Dendam Asti Jadi Kunci Cerita Penuh EmosiSSH Rawang Ramaikan SIBS di Bandung, Kenalkan Layanan Medis Modern

Dalam kondisi air benar-benar tidak tersedia, Umi bahkan terpaksa memanfaatkan air sungai yang keruh untuk kebutuhan tertentu, seperti mencuci dan mandi.

“Sampai jam 10 malam masih antre. Di MCK juga kalau yang ambil banyak, airnya bisa habis, jadi nunggu beberapa jam dulu baru ada lagi. Kadang suami saya harus ambil lagi jam 11 malam karena airnya habis. Kalau tidak ada sama sekali, terpaksa ke sungai, tapi itu hanya buat mencuci sama mandi,” katanya.

0 Komentar