Sopir Terdampak Penataan Angkot Tua di Kota Bogor Diberi Padat Karya, Harapan Baru atau Bantuan Sementara? 

Sopir Terdampak Penataan Angkot Tua di Kota Bogor Diberi Padat Karya, Harapan Baru atau Bantuan Sementara? 
Ilustrasi angkutan kota (angkot) di Kota Bogor. Foto: Sekar Andini/Jabar Ekspres
0 Komentar

Menurut Adi, program padat karya lebih tepat diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan pekerjaan sementara atau tambahan.

Sementara bagi sopir yang kehilangan mata pencaharian akibat penataan angkot yang telah melewati batas usia teknis, diperlukan solusi yang dapat menjamin keberlangsungan pekerjaan dalam jangka panjang.

“Harapan buat pemerintah ya bisa nyediain lowongan kerja yang lebih baik untuk kami sopir terdampak, iya yang berkepanjangan, jangan dibatasi seperti itu. Sekarang setelah 10 hari, kami bakal lanjut kerja apa?” katanya.

Baca Juga:600 Sopir Angkot Terdampak Penataan Diproyeksikan Ikut Padat Karya Pemkot Bogor, Dapat Rp120 Ribu per Hari 16 Angkot di Kota Bogor Berusia di Atas 20 Tahun Ditilang, Dipilok dan Diberi Tanda Tidak Laik Jalan 

Sementara itu, sopir angkot trayek 07, Acong (63), memiliki pertimbangan berbeda. Ia mengaku tidak tertarik mengikuti program padat karya karena faktor usia.

“Kalau saya sudah terlalu tua. Mungkin yang muda-muda. Kalau untuk yang tua-tua tidak mungkin. Katanya juga ada batas maksimal umur, berarti saya dan sopir yang sudah tua tidak bisa ikut,” kata Acong.

Acong mengakui angkot yang dikendarai telah berusia sekitar 24 tahun. Meski demikian, ia masih ingin bekerja sebagai sopir karena pekerjaan tersebut sudah menjadi sumber penghasilannya selama puluhan tahun.

Ia mulai menjadi sopir sejak awal tahun 2000, dari pengalaman tersebut, Acong menyebut kemampuan yang dimilikinya saat ini sebatas mengemudi.

Meski jumlah penumpang kini tidak seramai masa jaya angkot, pekerjaan tersebut masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam sehari, Acong menyebut bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp80 ribu hingga lebih dari Rp100 ribu, dengan kondisi paling sepi sekitar Rp50 ribu.

“Kalau masih narik angkot, saya masih sanggup. Ini juga pekerjaan sudah saya jalani puluhan tahun. Pekerjaannya juga tidak terlalu menguras fisik, jadi untuk usia kayak saya nih yang sudah tua, masih bisa dijalani lah kerjaan seperti ini,” ujarnya.

Baca Juga:107 Angkot Uzur di Kota Bogor Sukarela Serahkan Berkas, Mulai Diproses Hapus Izin TrayekDishub Kota Bogor Nonaktifkan 2 Bus Stop Biskita Trayek K2 usai Protes Sopir Angkot 

Acong berharap pemerintah dapat memberikan solusi yang lebih berkelanjutan, terutama bagi sopir berusia lanjut yang kehilangan sumber penghasilan karena terdampak penataan angkot.

“Yang kami harapkan ada perhatian juga buat sopir yang sudah tua seperti saya, karena kalau tidak bisa narik lagi, kami juga bingung mau kerja apa. Kalau ada bantuan kerja dari pemerintah, setidaknya yang bisa mengakomodir orang-orang yang usianya tua juga kayak saya ini,” katanya.

0 Komentar