JABAR EKSPRES – Debu putih yang beterbangan dari kawasan industri dan pertambangan batu kapur diduga menjadi penyebab pencemaran udara di sepanjang Jalan Padalarang-Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Fenomena tersebut semakin terasa dalam beberapa pekan terakhir sejak musim kemarau melanda wilayah Bandung Barat. Lapisan debu tampak menyelimuti atap bangunan, pepohonan, hingga badan jalan di kawasan Padalarang-Cipatat.
Peneliti Perhimpunan Rakyat Pemerhati Karst Citatah (PRPKC), Andri Prayoga, menduga polusi debu berasal dari dua sumber utama, yakni aktivitas pengolahan hasil tambang dan proses distribusi material dari lokasi penambangan menuju pabrik.
Baca Juga:3 Bangunan Ruko Terbakar di Ciomas Bogor, Kerugian Ditaksir Capai 700 JutaBPJS Jadi Syarat Pedagang di Marketplace Dapat Insetif, Diskon Biaya Layanan 50 Persen
“Polusi debu yang belakangan ramai di media sosial ini diduga berasal dari dua sektor. Pertama dari kawasan industri pengolahan hasil tambang, dan kedua dari proses distribusi material mulai dari lokasi penambangan hingga ke tempat pengolahan,” ujar Andri saat dikonfirmasi, Sabtu (27/6/2026).
Andri menduga, adanya pengolahan penyaringan debu yang tidak berjalan maksimal. Terutama pada sektor industri, sehingga partikel halus terlepas ke udara saat pabrik beroperasi.
“Di sejumlah pabrik pengolahan di Padalarang maupun Cipatat masih terlihat kepulan debu yang cukup tebal saat beroperasi. Kami menduga sistem penyaring udara seperti bag filter atau electrostatic precipitator (EP) pada cerobong tidak berfungsi maksimal sehingga debu terlepas ke lingkungan,” katanya.
Andri menjelaskan, saat ini semakin banyak industri di kawasan Padalarang dan Cipatat yang beralih dari pengolahan batu marmer menjadi pengolahan batu kapur. Kondisi itu dinilai turut meningkatkan potensi polusi udara.
Menurutnya, industri pengolahan batu kapur terbagi menjadi dua kategori. Pertama, industri melalui proses pembakaran dengan bahan bakar seperti ban bekas, limbah karet, atau batu bara kualitas rendah. Setelah itu material digiling menggunakan mesin hingga menjadi bubuk halus atau calcium carbonate powder maupun klinker sebagai bahan baku semen.
“Kategori kedua adalah industri yang tidak melalui proses pembakaran. Batu kapur langsung digiling menjadi kalsium karbonat atau bubuk halus yang umumnya digunakan sebagai bahan baku industri kosmetik, cat, plastik, pupuk, hingga pakan ternak,” jelasnya.
