Kemarau Panjang Mengintai, DTPH Jabar Imbau Petani Gunakan Benih Padi Tahan Kekeringan

Petani menanam padi untuk kebutuhan pangan di Jalan Sekemala, Kota Bandung, Selasa (10/2)
Petani menanam padi untuk kebutuhan pangan di Jalan Sekemala, Kota Bandung, Selasa (10/2). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Jawa Barat mengimbau petani untuk menggunakan varietas benih padi yang lebih tahan terhadap kondisi panas dan kekeringan. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah potensi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang pada 2026.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan mencakup sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia.

Selain itu, durasi musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dibandingkan kondisi normal, yakni berlangsung antara tiga hingga tujuh bulan, tergantung karakteristik wilayah masing-masing.

Baca Juga:Polres Tasikmalaya Turun Tangan Percantik Alun-Alun Singaparna, Gaungkan Semangat Indonesia AsriMahasiswa Ditemukan Tewas di Semak-semak Ciseeng, Polisi Masih Selidiki Penyebab Kematian

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala DTPH Jawa Barat, Dadan Hidayat, mengajak petani untuk lebih selektif dalam memilih benih yang sesuai dengan kondisi cuaca.

“Kami dorong untuk menggunakan benih yang toleran terhadap kekeringan lahan,” katanya, Selasa (23/6).

Menurutnya, saat ini tersedia berbagai varietas padi yang memiliki daya tahan lebih baik terhadap kondisi kekeringan, di antaranya Inpago 4, Inpago 5, Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, Inpago 11 Agritan, Inpago 12 Agritan, Inpago 13 Fortiz, Inpari 32, Inpari 38 Tadah Hujan Agritan, Inpari 39 Tadah Hujan Agritan, Inpari 40 Agritan, Inpari 41 Tadah Hujan Agritan, Inpari 42 Agritan GSR, Inpari 43 Agritan GSR, Inpari 46 GSR Tadah Hujan, Cisaat, Situbagendit, Situpatenggang, hingga Cakrabuana.

Dengan benih yang lebih tahan kemarau maka kekhawatiran petani terhadap hasil panen bisa diredam di tengah ancaman kemarau panjang. “Kami juga menyiapkan bantuan benih bersertifikat untuk komoditas padi dan jagung,” sambungnya.

Dadan melanjutkan, bantuan itu diperuntukkan bagi petani yang terdampak bencana kekeringan maupun percepatan tanam pada lokasi yang masih tersedia sumber airnya. Rincian bantuan yang disediakan yaitu benih padi ibrida untuk 21.825 hektar dan benih jagung hibrida untuk 1.000 hektar.

Meski menghadapi tantangan kemarau namun Dadan optimistis bahwa produksi padi tahun ini bisa terkendali. Produksi padi sawah dan ladang pada 2026 proyeksikan melebihi realisasi 2025 sebesar 10,226 juta ton gabah kering giling.(son)

0 Komentar