JABAR EKSPRES – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyoroti dampak kenaikan harga BBM non-subsidi yang dinilai semakin membebani masyarakat, khususnya kalangan kelas menengah yang menjadi kelompok pekerja produktif di Kota Bandung.
Farhan menegaskan, meski BBM subsidi tidak mengalami kenaikan harga, banyak masyarakat yang tidak lagi bisa mengakses BBM bersubsidi sehingga tetap merasakan dampak langsung dari kenaikan harga BBM.
“Beban masyarakat sekarang ini luar biasa. Memang BBM bersubsidi itu tidak naik, tetapi kita juga tahu banyak di antara kita yang tidak diperbolehkan menggunakan BBM bersubsidi,” kata Farhan, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga:Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Bikin Pemilik Kendaraan 2-Tak Putar Otak hingga Hendak Jual MotorESDM Jamin Tak Ada Kenaikan Harga BBM dan LPG Subsidi, Benarkah?
Menurutnya, kondisi tersebut membuat beban pengeluaran masyarakat semakin bertambah, terutama bagi pekerja yang mengandalkan kendaraan pribadi untuk beraktivitas setiap hari.
“Nah, maka bebannya kan artinya makin naik, terutama untuk beban kelas menengah yang merupakan kelas pekerja, kelas paling produktif di Kota Bandung ini,” ujarnya.
Farhan menilai kelompok kelas menengah saat ini berada dalam posisi yang cukup berat. Pasalnya, mereka tidak termasuk penerima subsidi maupun bantuan sosial, namun harus menghadapi berbagai kenaikan biaya hidup, mulai dari kebutuhan pokok hingga transportasi.
Pernyataan itu disampaikan menyusul penyesuaian harga BBM non-subsidi yang berlaku mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Di sisi lain, harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar subsidi tetap Rp6.800 per liter.
Farhan berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi kelas menengah yang selama ini menjadi penggerak utama perekonomian daerah. Menurutnya, jika daya beli kelompok pekerja terus tertekan, maka dampaknya bisa meluas terhadap aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat.
“Kelas menengah ini adalah kelompok yang paling produktif. Mereka bekerja, membayar pajak, menggerakkan ekonomi kota. Karena itu kondisi mereka juga harus menjadi perhatian,” ujar Farhan.
Kenaikan harga BBM non-subsidi diperkirakan akan meningkatkan biaya transportasi harian masyarakat perkotaan, termasuk di Bandung yang memiliki tingkat mobilitas warga cukup tinggi.
Baca Juga:Harga BBM Pertamax Naik, Sejumlah SPBU di Sumedang Kehabisan Stok pada Hari Pertama Transportasi Publik Buruk dan BBM Subsidi Salah Sasaran, Kenaikan Pertamax Dinilai Perberat Beban Masyarakat
Pemerintah sendiri memastikan harga BBM subsidi tidak mengalami perubahan sehingga tetap dapat diakses oleh masyarakat yang memenuhi kriteria penerima subsidi. (Dam)
