Ia menambahkan, keputusan beralih sementara ke Pertalite menjadi langkah realistis untuk menjaga kestabilan pengeluaran rumah tangga, baik pengeluaran harian maupun bulanan.
“Selisihnya lumayan banget kalau dikalikan 30 hari. Jadi sekarang sementara balik ke Pertalite dulu sampai nanti harganya stabil ya, mudah-mudahan sih stabil lagi baru nanti balik pake Pertamax,” ujarnya.
Pengendara motor lainnya asal Bogor Tengah, Tama (26) juga mengaku mulai menghitung ulang pengeluaran transportasi setelah kenaikan harga Pertamax. Menurutnya, dampak kenaikan paling terasa justru dalam perhitungan harian yang sebelumnya tidak terlalu terasa.
Baca Juga:21 Dapur MBG di Tasikmalaya Masih Berhenti, Satu SPPG Kena Suspen Akibat Sarpras Tak MemadaiAnggaran Belum Masuk, 85 Dapur MBG di Tasikmalaya Berhenti Beroperasi
“Biasanya isi penuh bisa tahan beberapa hari, saya kan cuman ke Depok aja kerja, tapi kalau naik harganya gini ya harus dihitung per hari dan jadi kerasa banget. Jadi harus lebih hemat atau ganti ke Pertalite. Ini juga masih coba hitung-hitungan pengeluaran sih milih yang paling hemar aja,” katanya.
Sementara itu, sebagian pengendara lainnya memilih tetap menggunakan Pertamax dengan alasan performa mesin yang lebih stabil, meski harus mengeluarkan biaya lebih besar.
Kondisi tersebut pun membuat Pertalite yang masih disubsidi pemerintah menjadi opsi utama sebagian masyarakat untuk menyesuaikan pengeluaran transportasi harian maupun bulanan di tengah kenaikan harga Pertamax.
