Harga Pertamax Naik, Antrean Pertalite Mengular di SPBU Kopo Sayati

SPBU Pertamina Jalan Kopo Sayati, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Rabu (10/6/2026)
SPBU Pertamina Jalan Kopo Sayati, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Rabu (10/6/2026). Foto Agni Ilman Darmawan/Jabar Ekspres/
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang diberlakukan PT Pertamina (Persero) mulai 10 Juni 2026 berdampak pada meningkatnya antrean kendaraan di jalur pengisian Pertalite di sejumlah SPBU.

Salah satunya terlihat di SPBU Pertamina Jalan Kopo Sayati, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Rabu (10/6/2026).

PT Pertamina resmi menyesuaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green. Harga Pertamax yang sebelumnya Rp12.300 per liter naik menjadi Rp16.250 per liter atau bertambah Rp3.950 per liter.

Baca Juga:21 Dapur MBG di Tasikmalaya Masih Berhenti, Satu SPPG Kena Suspen Akibat Sarpras Tak MemadaiAnggaran Belum Masuk, 85 Dapur MBG di Tasikmalaya Berhenti Beroperasi

Sementara Pertamax Green naik dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter atau meningkat Rp4.100 per liter.

Pantauan di lokasi, antrean sepeda motor yang mengisi BBM jenis Pertalite tampak mengular. Sebaliknya, jalur pengisian Pertamax terlihat relatif lengang.

Kondisi tersebut diduga dipicu oleh peralihan sebagian konsumen dari BBM non-subsidi ke Pertalite setelah harga Pertamax mengalami kenaikan cukup signifikan.

Salah seorang pengendara sepeda motor, Rahmat (40), mengaku keberatan dengan kenaikan harga BBM non-subsidi tersebut.

Menurutnya, lonjakan harga yang mencapai hampir Rp4.000 per liter sangat membebani masyarakat.

“Berat pisan ayeuna mah. Naiknya hampir Rp4.000 per liter. Kalau sehari-hari pakai motor untuk aktivitas kerja, tentu pengeluaran jadi bertambah banyak,” ujar Rahmat saat ditemui di SPBU Kopo Sayati.

Ia mengaku kini memilih beralih ke Pertalite agar biaya transportasi hariannya tidak terlalu membengkak.

Baca Juga:BTN Karawang Perkuat Akses Pembiayaan UMKM Biar Usaha Makin CuanBupati Ajak Warga Ikut Mengawasi, Proyek Jalan Ciwatin-Kalapagenep Senilai Rp34,6 Miliar Mulai Dikerjakan

“Sekarang terpaksa isi Pertalite dulu. Kalau tetap Pertamax, pengeluaran bensin per bulan bisa jauh lebih besar,” katanya.

Hal senada disampaikan pengemudi ojek online, Aldi (30). Ia mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain ikut mengantre untuk mendapatkan Pertalite meski harus menunggu lebih lama.

“Mau bagaimana lagi, sudah naik. Antre juga tidak masalah meski lama, yang penting bisa dapat bensin dengan harga yang lebih terjangkau,” kata Aldi.

Menurut Aldi, kenaikan harga Pertamax cukup berpengaruh terhadap pendapatan pengemudi ojek online yang setiap hari bergantung pada kendaraan untuk bekerja.

“Kalau biaya bensin naik terus, tentu pendapatan yang dibawa pulang juga berkurang. Jadi sekarang banyak yang memilih Pertalite,” ucapnya.

0 Komentar