“Anak-anak belajar langsung bahwa perbedaan itu rahmat. Yang penting adalah adab, kerja keras, dan saling menghargai. Madrasah mendidik siswa jadi insan cerdas yang berakhlak, termasuk akhlak bertoleransi. Guru ini menjalankan tugas dengan baik, dan siswa pun menerima dengan positif,” katanya.
Dari sisi peserta didik, sosok guru seperti Roma Fiorentina menjadi contoh nyata bahwa dedikasi dan prestasi tidak dibatasi oleh identitas seseorang.
“Para siswa tetap belajar dengan semangat, menghormati guru, dan fokus meraih cita-cita. Keberadaan Roma Fiorentina di MAN Kota Banjar pun berjalan dengan lancar dan diterima secara positif oleh seluruh komunitas madrasah,” kata Fikri. (CEP)
