JABAR EKSPRES – Jam sudah menunjukkan pukul 13.00. Tapi tak lebih 5 batang hidung pembeli nampak menawar di Pasar Kain Cigondewah. Lalu di balik tumpukan kain, Sintya salah satu pedagang malah sibuk ngoceh di layar smartphone yang terpasang erat di tripod. Dialognya khas jualan secara live streaming.
Sintya adalah salah satu pedagang yang berusaha beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ia menjaga nyala penjualan kain dengan memanfaatkan fitur live streaming di tengah sepinya pembeli di pasar yang ada di Kota Bandung itu.
Pasar Kain Cigondewah punya nama resmi Kawasan Tekstil Cigondewah (KTC). Itu bagian dari Sentra Kain Cigondewah di Kota Bandung, Jawa Barat. Kawasan yang dikenal sebagai pusat penjualan kain.
Sejarah Kejayaan, Omset Tembus Rp 25 juta Sehari
Baca Juga:Rumah Dadan Hindayana di Sentul Ternyata Sudah Disewa Tiga Bulan, Security Sebut Kerap Digunakan untuk RapatRumah Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Digeledah Kejagung, Petugas Bersenjata Laras Panjang Turun ke Sentul
Sentra Kain Cigondewah mulai tumbuh sekitar tahun 1980-an. Bermula dari segelintir orang yang menjual kain bekas atau kain limbah pabrik. Perlahan, masyarakat setempat yang dulunya petani ikut beralih profesi untuk jualan kain. Termasuk warga luar daerah yang ikut membangun bisnis kain di kawasan itu.
Hasilnya, kawasan yang dulunya agraris itu kini berubah jadi sentra kain. Ratusan pedagang kain mengadu nasib di Sentra Kain Cigondewah. Mereka berkumpul dalam beberapa kawasan ataupun ruko-ruko pinggir jalan.
Salah satunya adalah Pasar Kain Cigondewah yang pembangunannya dimulai dari 7 toko pada 2001. Pasar itu berkembang, hingga saat ini setidaknya ada 71 pelaku usaha dengan 110 unit usaha.
Pasar itu sempat menapaki era kejayaan di sekitar 2000 – 2015. Kala itu pembeli datang silih berganti. Mereka berdesak-desakan memilah dan menawar kain. Para penjual sampai kewalahan melayani.
Parkir penuh dan jalan ke kawasan itu kerap macet karena saking ramainya pembeli yang keluar masuk pasar di Jalan Cigondewah Rahayu tersebut. Tak heran jika masa itu, satu pedagang sampai bisa meraup omset Rp 25 juta sehari.
Sayangnya kondisi pasar itu tak seperti dulu. Saat ini cenderung sepi alias tak ramai lagi pembeli yang datang ke tempat tersebut.
Setiap hari kebanyakan bukan wajah-wajah asing yang berlalu lalang di pasar itu. Plat nomor kendaraan yang tercatat di mesin parkir juga kebanyakan sama.
