Jabar Ekspres – Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat hingga sempat menyentuh Rp18.048 mulai menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Bandung.
Meski dampaknya terhadap harga kebutuhan pokok belum terasa signifikan, sektor industri dinilai paling rentan terdampak karena masih bergantung pada bahan baku impor.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Bandung, Dicky Anugrah, mengatakan stabilitas nilai tukar menjadi faktor penting bagi keberlangsungan industri, khususnya tekstil yang banyak menggunakan bahan baku dari luar negeri.
Baca Juga:Trotoar hingga Bahu Jalan Dikuasai PKL, Pemkab Segera Tata Singaparna yang SemrawutKampung Naga Ditutup Tiga Bulan, Sejumlah Destinasi Alternatif Bisa Jadi Pilihan
“Kami berharap nilai dolar tetap stabil karena akan berpengaruh terhadap sejumlah komoditas dan bahan baku industri yang masih bergantung pada impor,” kata Dicky saat ditemui di kantornya, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, banyak bahan baku tekstil yang masih didatangkan dari luar negeri, termasuk dari China.
Kenaikan harga bahan baku akibat penguatan dolar akan meningkatkan biaya produksi yang pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan harga produk.
“Bahkan jika industri tidak sanggup membeli bahan baku, bisa terjadi penghentian produksi yang berdampak pada tenaga kerja,” ujarnya.
Meski demikian, Dicky memastikan hingga saat ini kebutuhan pokok masyarakat di Kabupaten Bandung masih relatif aman.
Komoditas lokal seperti sayuran, bawang, dan daging ayam belum menunjukkan gejolak harga yang signifikan karena mayoritas dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Ia menambahkan, potensi inflasi lebih mungkin dipicu oleh gangguan distribusi atau praktik penimbunan barang.
Baca Juga:Gandeng Konsorsium Korea Selatan Siapkan Nakes Indonesia Berstandar GlobalKejagung Bongkar Dugaan Korupsi Program MBG, Tiga Mantan Pejabat BGN Tersangka
Namun, menjelang Hari Raya Idul Adha, pihaknya belum menerima laporan adanya penimbunan dan harga kebutuhan pokok masih terkendali.
“Yang perlu diwaspadai adalah inflasi akibat rantai distribusi yang panjang atau adanya penimbunan. Sampai saat ini belum ada laporan penimbunan dan harga-harga masih relatif stabil,” katanya.
Dicky juga menyoroti komoditas kedelai yang masih bergantung pada impor dan berpotensi terdampak apabila nilai tukar dolar terus bertahan tinggi dalam beberapa pekan ke depan. Kedelai merupakan bahan baku utama produksi tahu dan tempe.
“Kedelai memang masih banyak diimpor karena kualitas yang digunakan untuk tahu dan tempe dianggap lebih baik. Namun kedepan kita harus memperkuat produksi kedelai lokal agar kualitasnya bisa bersaing dengan impor,” tuturnya.
