Antisipasi El Nino, DKPP Bandung Ingatkan Ancaman Kemarau Panjang terhadap Ketahanan Pangan

foto ilustrasi : Pemkot mulai antisipasi ancaman el nino bagi pasokan pangan di Kota Bandung. (Dimas/JE)
foto ilustrasi : Pemkot mulai antisipasi ancaman el nino bagi pasokan pangan di Kota Bandung. (Dimas/JE)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemerintah daerah diminta untuk mulai memperkuat langkah mitigasi menghadapi potensi dampak fenomena iklim El Nino yang diperkirakan memicu musim kemarau berkepanjangan dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan tekanan besar terhadap sektor pertanian, distribusi pangan, hingga stabilitas harga kebutuhan pokok.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, mengatakan upaya antisipasi harus dilakukan sejak dini agar dampak yang ditimbulkan tidak semakin besar. Menurutnya, pemerintah tidak hanya fokus pada kondisi saat ini, tetapi juga perlu mempersiapkan strategi menghadapi kemungkinan perubahan cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi hingga akhir tahun.

Ia menjelaskan, berdasarkan sejumlah perkiraan, fenomena El Nino berpotensi mulai memengaruhi kondisi cuaca pada Juni 2026 dan dapat berlangsung selama kurang lebih enam bulan. Situasi tersebut berisiko menyebabkan berkurangnya curah hujan dan memicu kemarau yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Baca Juga:Trotoar hingga Bahu Jalan Dikuasai PKL, Pemkab Segera Tata Singaparna yang SemrawutKampung Naga Ditutup Tiga Bulan, Sejumlah Destinasi Alternatif Bisa Jadi Pilihan

“Yang perlu diantisipasi bukan hanya kondisi hari ini, tetapi juga perkembangan ke depan. Ada potensi El Nino yang dapat menyebabkan kemarau panjang sehingga perlu menjadi perhatian bersama sejak sekarang,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).

Gin Gin menuturkan, sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling rentan terdampak apabila musim kemarau berlangsung dalam waktu lama. Ketersediaan air untuk irigasi dapat berkurang sehingga memengaruhi produktivitas lahan pertanian dan hasil panen di berbagai daerah pemasok pangan.

Selain berdampak pada produksi, kondisi cuaca ekstrem juga berpotensi mengganggu rantai pasok pangan secara keseluruhan. Mulai dari proses distribusi, pengangkutan, hingga logistik pangan dapat menghadapi berbagai kendala yang berujung pada terganggunya pasokan di pasar.

Menurutnya, situasi tersebut perlu menjadi perhatian serius karena Kota Bandung merupakan wilayah perkotaan yang sebagian besar kebutuhan pangannya dipenuhi dari daerah lain. Ketergantungan terhadap pasokan eksternal membuat kota ini rentan terhadap berbagai gangguan yang terjadi di sentra-sentra produksi maupun jalur distribusi.

“Apabila produksi di daerah pemasok terganggu akibat kemarau panjang, maka dampaknya akan terasa hingga ke Kota Bandung. Tidak hanya menyangkut ketersediaan pangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga di tingkat konsumen,” katanya.

0 Komentar