Penumpukan sampah yang terjadi selama beberapa pekan terakhir juga berdampak langsung terhadap aktivitas perdagangan di Pasar Baleendah.
Bau menyengat dari sampah membuat sebagian konsumen enggan melintasi pintu masuk pasar yang berada di dekat TPS.
“Jelas terganggu. Saya pedagang, sangat terganggu. Konsumen juga jadi enggan datang ke pasar karena bau. Sampahnya sampai masuk ke depan pintu tempat dagang,” ujar Indra.
Baca Juga:KDS Inisiasi Rakor Bandung Raya, Sedimentasi Citarum dan Krisis Sampah Jadi SorotanFarhan Usul Status Darurat Sampah, Dedi Mulyadi Pilih Fokus pada Solusi Penanganan
Selain menimbulkan bau, keberadaan sampah juga memperparah persoalan genangan air di sekitar pasar. Indra menyebut kawasan TPS tidak memiliki saluran drainase yang memadai sehingga air limbah dan air hujan kerap meluap ke area sekitar pasar.
Akibat kondisi tersebut, sejumlah pedagang mengaku mengalami penurunan omzet. Menurut Indra, persoalan sampah dan banjir menjadi dua faktor utama yang memengaruhi kenyamanan pengunjung.
Ke depan, ia berharap DLH dan Disperindag dapat memperkuat kolaborasi dalam membenahi tata kelola sampah di Pasar Baleendah.
Ia menilai keberhasilan program pemilahan sampah tidak cukup hanya melalui sosialisasi kepada pedagang, tetapi juga memerlukan petugas khusus dan dukungan pembiayaan agar sistem berjalan efektif.
“Harus ada tata kelola yang benar. Organiknya diolah, non-organiknya yang menjadi residu dibuang ke TPA. Tanpa ada personel untuk pemilahan, saya kira akan sulit berjalan maksimal,” pungkasnya.
