Nasib Pencari Rezeki di Terminal Cicaheum, Antara Kekhawatiran dan Harapan di Tengah Rencana Penutupan

Nasib Pencari Rezeki di Terminal Cicaheum, Antara Kekhawatiran dan Harapan di Tengah Rencana Penutupan
Suasana deretan bus di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Jumat (29/5). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

“Semoga saja ada jalan terbaik lah, jadi kita juga disiapkan tempat untuk berdagang. Karena memang sudah lama ibu jualan di sini,” ujarnya.

Ia mengaku langsung dihantui rasa cemas mengenai keberlangsungan usahanya jika relokasi dilakukan tanpa solusi yang jelas bagi para pedagang.

“Pas dengar mau ditutup jadi depo BRT jujur kaget, deg-degan. Kalau digusur pindah ke mana ya. Intinya semoga para yang berkepentingan bisa memikirkan nasib kita juga lah,” katanya.

Baca Juga:Masa Penyesuaian, Sejumlah Bus Masih Layani Penumpang di Terminal CicaheumPengosongan Terminal Cicaheum Masih dalam Tahap Pembahasan, Sosialisasi Terus Berjalan

Bagi para pedagang, keberadaan terminal bukan hanya menjadi pusat aktivitas transportasi, tetapi juga sumber perputaran ekonomi yang menopang kehidupan keluarga mereka.

Hilangnya aktivitas terminal dikhawatirkan akan berdampak langsung terhadap pendapatan puluhan bahkan ratusan pelaku usaha kecil yang selama ini bergantung pada lalu lalang penumpang.

Rencana menjadikan Terminal Cicaheum sebagai depo BRT merupakan bagian dari pengembangan sistem transportasi massal di kawasan Bandung Raya. Pemerintah menilai langkah tersebut diperlukan untuk mendukung integrasi layanan transportasi yang lebih modern dan efisien.

Namun di balik agenda besar modernisasi transportasi tersebut, terdapat harapan dari para pencari rezeki yang selama puluhan tahun hidup berdampingan dengan Terminal Cicaheum.

Mereka berharap pemerintah tidak hanya mempersiapkan infrastruktur baru, tetapi juga menyiapkan skema relokasi, pendampingan, dan solusi ekonomi bagi masyarakat yang terdampak.

Sebab bagi para sopir, kernet, pedagang, hingga pekerja informal lainnya, Terminal Cicaheum bukan sekadar bangunan dan lahan transportasi. Tempat itu telah menjadi ruang hidup yang selama bertahun-tahun menghidupi keluarga mereka dari hari ke hari. (Dam)

0 Komentar