BANDUNG – Kemenangan Pawai tiga kali beruntun Persib Bandung berubah tragis. Sebanyak 122 orang menjadi korban kecelakaan dan dua orang meninggal dunia diduga akibat minuman keras, disertai aksi kekerasan serta perilaku tidak terpuji selama pawai.
Pimpinan DPRD Kota Bandung Edwin Senjaya pun menyuarakan gambaran mendalam atas degradasi moral generasi muda Bandung yang terpapar dalam perayaan-perayaan tersebut. Terlebih dari informasi maupun berita yang beredar di media sosial, terdapat banyak kejadian yang tidak mengenakkan ketika pawai kemenangan berlangsung.
“Contoh perilaku yang mereka lakukan kepada para pemain dan pelatih yang jelas jelas sangat mengganggu dan membuat tidak nyaman. Kemudian berbagai cuplikan yang terjadi di antara sesama suporter. Lalu, terjadinya pengrusakan fasilitas umum dan juga berbagai pelanggaran lalu lintas,” ujar Erwin di Gedung DPRD Kota Bandung, Selasa (26/5/2026).
Baca Juga:Brewek Taronya, Tangkap Pokémonnya Ramaikan Bandung!Alumni Unisba Tuntut Diplomasi Tegas atas Penculikan 9 WNI
Edwin menyebut dari 122 peristiwa kecelakaan, 70 diantaranya menimpa warga Kota Bandung. Beberapa dari para korban pun harus dirawat di rumah sakit, meskipun ada yang sudah kembali ke rumah dan menjalani rawat jalan.
“Tapi yang paling membuat saya prihatin adalah adanya aksi kekerasan yang sampai kemudian akhirnya menimbulkan korban jiwa. Ini saya melihat kayaknya ada yang salah di tengah-tengah masyarakat kita. Kenapa sesama pendukung, sesama warga Kota Bandung bahkan sesama warga Jawa Barat, bisa saling menyakiti sampai akhirnya merenggut jiwa seseorang,” tuturnya.
Ia melihat adanya degradasi moral dan akhlak pada diri generasi muda saat ini sehingga timbul kejadian-kejadian yang tak terpuji serta cenderung melanggar hukum. Bahkan, dia menemukan video yang menunjukkan sejumlah perempuan muda mengeluarkan kata-kata tak pantas.
Persoalan tersebut, ditekankan Edwin, harus menjadi perhatian penting bagi Pemerintah Kota Bandung, dalam hal ini Dinas Pendidikan. “Ini harus menjadi evaluasi bagi Dinas Pendidikan apakah kurikulum yang diberikan terutama mata pelajaran Budi Pekerti, Agama, dan PKN (Pendidikan Kewarganegaraan) mendapat porsi yang sesungguhnya atau tidak,” tegasnya.
Tak hanya itu, Edwin mengamati sejumlah aksi kekerasan yang dipicu oleh konsumsi minuman keras dan obat-obatan terlarang. Oleh karena itu, dia meminta Pemkot Bandung dan aparat keamanan memberikan atensi khusus terhadap peredaran dua barang haram tersebut.
