BANDUNG – Yayasan Assalaam kembali menegaskan komitmennya membangun peradaban Islam melalui Wisuda Akbar Alquran yang digelar di Gedung Bikasoga, Kota Bandung, Kamis (21/5/2026). Acara yang berlangsung khidmat ini bukan sekadar seremoni, melainkan bukti nyata ikhtiar panjang yayasan mencetak generasi unggul: cerdas secara akademik sekaligus mendalam secara spiritual.
Ketua Program Yanbu’a Assalaam, Fahrul Roji, mengatakan animo peserta tahun ini sangat tinggi. “Wisuda Akbar Alquran ini diwadahi oleh dua program utama, yaitu program tahsin dengan metode Yanbu’a dan program tahfidz,” ujarnya.
Menurut Fahrul, hasil pelatihan selama ini menyenangkan. Dari sekitar 800 peserta yang hadir, sebanyak 10 siswa berhasil menghatamkan hafalan 30 juz secara utuh. Ratusan peserta lain juga mencatat prestasi berjenjang, mulai dari 3 juz, 5 juz, 7 juz, hingga 10 juz. Fahrul menjelaskan visi pendidikan Assalaam yang holistik. “Kami tidak hanya ingin mencetak siswa yang pintar secara akademik, tetapi juga mahir membaca Alquran, menghafalnya, berakhlak mulia, bertakwa kepada Allah, serta berbakti tinggi kepada orang tua,” katanya.
Baca Juga:PDI Perjuangan Jabar Kembali Bantu Rp81,6 Juta untuk Bandung Zoo Kabar Gembira! Klaim JHT Rp15 Juta Bisa Dicairkan via JMO Mulai Mei 2025
Untuk mewujudkan hal itu, kurikulum tahfidz dirancang bertahap sesuai jenjang pendidikan. Di TK, fokus hafalan pada Juz 30. Di SD, minimal 3 juz. MTs menargetkan 8 juz, sementara MA ditargetkan mampu mempertahankan hafalan hingga 20 juz. Fahrul menekankan bahwa kunci keberhasilan hafalan bukan semata-mata bakat, melainkan determinasi dan kedisiplinan. “Siswa yang mau mengurangi waktu bermain demi mengulang hafalan, pasti akan menuai hasil lebih baik,” ungkapnya.
Di jenjang MTs dan MA, standar mutu sangat ketat. Siswa tidak boleh menambah hafalan baru sebelum lulus uji tasmi’ (simak hafalan) juz-juz sebelumnya. “Jika mau naik ke Juz 6, ia harus disimak dulu dari Juz 1 sampai 5,” jelas Fahrul.
Keberhasilan program ini juga didukung metode Yanbu’a yang diterapkan secara konsisten. Staf Yayasan Assalaam, Muhammad Abrori Ibnu Muafiyah, menjelaskan pentingnya sanad keilmuan. “Yanbu’a memiliki sanad yang bersambung hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,” tegas Abrori di sela-sela acara.
Metode ini berafiliasi dengan Pesantren KH Arwani di Kudus dan dirancang dengan penuh kehati-hatian, termasuk melalui istikharah. “Banyak yang hafal Alquran tapi tidak punya sanad, sehingga mudah lepas kendali. Dengan Yanbu’a, anak hafal dalam bimbingan guru yang jelas sanadnya,” jelas Abrori. Sanad ini bersambung melalui KH Arwani dan KH Munawir Krapyak, dengan 32 hingga 35 mata rantai hingga Rasulullah.
