Sadam Husen Soleh Ramdhani, Jabar Ekspres.
Bandung perlahan berubah wajah dalam beberapa hari terakhir. Warung kopi yang biasanya dipenuhi obrolan pekerjaan mendadak berubah menjadi ruang analisis sepak bola. Percakapan santai di kantor mulai dipenuhi hitung-hitungan klasemen. Grup percakapan keluarga mendadak ramai membahas peluang juara. Di sudut-sudut kota, optimisme tumbuh pelan-pelan.
Persib tinggal satu langkah lagi.
Sabtu (23/5) menjadi panggung penentuan. Laga melawan Persijap bukan sekadar pertandingan terakhir musim ini. Bagi Bandung, pertandingan itu bisa menjadi batas tipis antara pesta besar dan satu pelajaran lama yang terus hidup dalam sepak bola, tidak ada yang benar-benar selesai sebelum peluit panjang berbunyi.
Di atas kertas, situasi Persib memang terlihat nyaman. Maung Bandung berada di posisi yang menentukan nasib sendiri. Satu hasil yang tepat, dan gelar bisa diamankan. Kota pun mulai menunjukkan tanda-tanda perayaan.
Baca Juga:Bupati Bandung Prediksi Persib Menang 3-2, Pemkab Gelar Nobar di DomeKetua Viking Imbau Bobotoh Tertib di Laga Penentuan Juara Persib: Kejadian Musim Lalu Jangan Terulang!
Rute konvoi kemenangan mulai dipersiapkan pemerintah daerah bersama aparat kepolisian. Antisipasi arus lalu lintas mulai dibahas. Obrolan soal titik kumpul suporter perlahan bermunculan. Media sosial dipenuhi desain perayaan. Bandung seolah sedang berdiri di ruang tunggu bernama juara.
Tetapi sepak bola terlalu sering menghukum mereka yang terlalu cepat merasa aman.
Masalahnya sederhana. Kompetisi belum selesai. Di sudut lain klasemen, masih ada Borneo FC yang peluangnya memang kecil, tetapi belum benar-benar hilang. Skenario itu masih hidup.
Jika Persib kalah dari Persijap dan di waktu yang sama Borneo berhasil menang atas Malut United, arah cerita bisa berubah hanya dalam hitungan menit.
Kemungkinannya mungkin tipis. Tetapi sejarah sepak bola dibangun dari hal-hal yang awalnya terlihat mustahil.
Sepak bola punya kebiasaan aneh. Ia sering menertawakan logika.
Dunia pernah menyaksikan bagaimana Barcelona membalikkan agregat empat gol saat menghadapi Paris Saint-Germain di Liga Champions. Kekalahan 0-4 di leg pertama seperti menutup semuanya.
Tetapi malam di Camp Nou menghadirkan sesuatu yang sulit dijelaskan akal sehat. Barcelona menang 6-1. Agregat berubah. Cerita berubah.
Baca Juga:Polda Jabar Siap Amankan Euforia Persib Juara, Jakmania Diimbau Jangan EmosiSeniman Iwonk Abadikan Sejarah Persib Lewat Patung Bojan Hodak dan Para Legenda
Dunia kembali diingatkan bahwa sepak bola tidak tunduk pada hitungan matematis.
