Persib vs Persijap: Antara Aroma Pesta Juara dan Pengingat Bahwa Sepak Bola Tak Pernah Mengenal Kata Pasti

Persib vs Persijap: Antara Aroma Pesta Juara dan Pengingat Bahwa Sepak Bola Tak Pernah Mengenal Kata Pasti
Ilustrasi: Pemain Persib Bandung mengikuti official training di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Gedebage, Kota Bandung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

Kisah lain datang dari final Liga Champions 1999. Bayern Munchen sudah berdiri sangat dekat dengan trofi. Waktu normal hampir selesai. Stadion nyaris percaya segalanya sudah berakhir.

Lalu dua gol di masa tambahan waktu mengubah sejarah. Manchester United bangkit. Treble lahir. Dan dunia sepak bola kembali mengulang satu kalimat yang sudah diwariskan lintas generasi.

Bola itu bundar.

Di Bandung, kalimat itu terasa hidup beberapa hari terakhir. Bukan karena Bobotoh tidak percaya. Justru karena terlalu percaya, mereka memahami bahwa rasa hormat kepada permainan harus dijaga sampai akhir.

Baca Juga:Bupati Bandung Prediksi Persib Menang 3-2, Pemkab Gelar Nobar di DomeKetua Viking Imbau Bobotoh Tertib di Laga Penentuan Juara Persib: Kejadian Musim Lalu Jangan Terulang!

“Optimistis pasti. Persib musim ini bagus. Tinggal sedikit lagi. Tapi saya pribadi belum berani bicara terlalu jauh soal pesta. Sepak bola terlalu banyak ngasih pelajaran soal jangan terlalu cepat tenang,” kata Rizky, seorang Bobotoh asal Bandung Timur.

Nada serupa juga muncul dari Deni, Bobotoh lainnya yang memilih menikmati situasi dengan lebih hati-hati.

“Pengennya juara. Semua juga pengen. Tapi saya mau lihat peluit akhir dulu. Kita pernah lihat banyak cerita sepak bola yang berubah dalam hitungan menit,” katanya.

Perasaan seperti itu mungkin bukan hanya dirasakan dua orang. Bandung sedang mengalaminya bersama-sama.

Ada pelaku usaha kecil yang berharap pertandingan terakhir berujung pesta dan membawa rezeki tambahan. Ada pedagang kaus yang mulai menambah stok dagangan. Ada keluarga yang sudah menentukan tempat menonton bersama. Ada anak-anak yang menyiapkan jersey terbaiknya sejak jauh hari.

Di kota ini, Persib bukan hanya klub sepak bola. Persib sudah tumbuh menjadi denyut sosial. Ada ritme kota yang bergerak mengikuti jadwal pertandingan. Ada emosi kolektif yang naik dan turun bersama hasil akhir di lapangan.

Karena itu, euforia menjadi sesuatu yang sulit ditahan. Wajar. Bandung sudah terlalu lama berjalan bersama Persib untuk tidak ikut bermimpi.

Baca Juga:Polda Jabar Siap Amankan Euforia Persib Juara, Jakmania Diimbau Jangan EmosiSeniman Iwonk Abadikan Sejarah Persib Lewat Patung Bojan Hodak dan Para Legenda

Tetapi justru karena sepak bola terlalu sering menghadirkan cerita liar, ada satu hal yang mungkin perlu terus diingat. Sepak bola tidak memberi hadiah kepada tim yang paling dulu merayakan. Sepak bola hanya memberi hadiah kepada mereka yang mampu menuntaskan pekerjaan sampai garis akhir.

0 Komentar