JABAR EKSPRES – Kota Bandung menghadapi ancaman kemacetan yang semakin kompleks seiring pertumbuhan kendaraan pribadi, tingginya mobilitas masyarakat, serta tekanan aktivitas wisata.
Jika sistem transportasi publik tidak segera dibenahi secara menyeluruh, Bandung berpotensi menghadapi kondisi gridlock atau kemacetan total yang membuat pergerakan kendaraan nyaris lumpuh.
Pengamat transportasi UPI, Wiku Tama, menilai pembangunan sistem transportasi massal seperti Bus Rapid Transit (BRT) memang menjadi langkah positif.
Baca Juga:Farhan Pastikan Proyek BRT Bandung Berlanjut, Kualitas Halte Jadi SorotanPengamat Nilai BRT Tak Sepenuhnya Atasi Kemacetan Kota Bandung
Namun, kehadiran moda baru tidak otomatis menyelesaikan persoalan apabila belum mampu mendorong masyarakat berpindah dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
Menurutnya, ukuran keberhasilan transportasi publik bukan sekadar hadirnya infrastruktur baru, melainkan sejauh mana layanan tersebut benar-benar menarik warga untuk meninggalkan kendaraan pribadi.
“Kalau BRT hadir tetapi tidak mampu mewadahi kebutuhan masyarakat, tidak nyaman, tidak terintegrasi, atau aksesnya masih sulit dijangkau, maka perpindahan moda tidak akan terjadi secara signifikan,” kata Wiku kepada Jabar Ekspres. Rabu (20/5/2026).
Ia menjelaskan ancaman terbesar Kota Bandung saat ini adalah pertumbuhan volume kendaraan yang terus meningkat sementara kapasitas jalan relatif terbatas. Kondisi tersebut diperparah oleh penggunaan kendaraan pribadi yang masih sangat masif dalam aktivitas sehari-hari.
Bandung, kata dia, memiliki karakteristik perkotaan yang kompleks. Selain pergerakan warga lokal, jalan-jalan di Kota Bandung juga menampung mobilitas wisatawan yang masuk setiap akhir pekan maupun musim libur.
Arus kendaraan dari wilayah aglomerasi seperti Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, hingga Kabupaten Bandung Barat juga ikut memberikan tekanan besar terhadap jaringan jalan.
Belum lagi keberadaan angkutan kota yang hingga kini masih menjadi bagian sistem transportasi perkotaan, tetapi kerap menimbulkan persoalan tersendiri apabila pengelolaannya tidak terintegrasi.
Baca Juga:Soroti Banjir hingga Macet di Bandung Tak Tuntas, Pengamat: Kurang Kolaboratif!Pro Kontra Warga Bandung Soal Rencana BRT, Dinilai Bisa Atasi Macet hingga Picu Kekhawatiran Baru
“Kalau semua tetap mengandalkan kendaraan pribadi, wisatawan masuk dengan kendaraan masing-masing, ditambah angkutan umum yang belum tertata optimal, maka ruang jalan akan semakin terbebani,” ujarnya.
Wiku menilai ancaman gridlock bukan lagi persoalan jangka panjang, melainkan situasi yang perlahan mulai terlihat dalam sejumlah koridor utama Kota Bandung. Kondisi lalu lintas yang padat hampir sepanjang hari menunjukkan kapasitas jalan mulai mendekati batas kemampuan.
