Masyarakat Cimande Rawat Adu Bincurang sebagai Identitas Budaya Kabupaten Bogor

Masyarakat Cimande Rawat Adu Bincurang sebagai Identitas Budaya Kabupaten Bogor
Masyarakat Cimande Rawat Adu Bincurang sebagai Identitas Budaya Kabupaten Bogor. Foto Sandika
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di tengah derasnya arus budaya modern dan tren media sosial yang terus mengubah gaya hidup generasi muda, warga Kampung Cimande, Kabupaten Bogor, masih mempertahankan satu tradisi khas yang sarat makna yaitu Adu Bincurang.

Tradisi adu ketahanan tulang kering itu bukan sekadar permainan fisik. Bagi masyarakat Cimande, Adu Bincurang menjadi simbol persaudaraan, ajang silaturahmi, sekaligus warisan budaya pencak silat yang diwariskan lintas generasi.

Setiap peserta yang turun ke arena tidak hanya dituntut kuat secara fisik, tetapi juga menjaga adab dan etika. Mereka wajib mengenakan peci, kain, serta pakaian khas pencak sebelum saling mengadu tulang kering dari area lutut hingga mata kaki.

Baca Juga:Bangunan Langgar Garis Sempadan Jalan, Bupati Tasikmalaya: Bongkar Sendiri atau Kita Garuk Pakai Alat Berat!Hujan Deras Drainase Tersumbat, 50 Rumah dan 179 Jiwa di Cibinong Terdampak

Sesepuh Pelestarian Penca Pusaka Cimande, Didih Supriadi atau yang akrab disapa Aki Didih, mengatakan tradisi tersebut lahir dari kecerdasan para leluhur dalam menyatukan generasi muda.

“Dulu itu cerdasnya orang tua kita untuk menyatukan generasi muda dan jadi forum silaturahmi kayak Adu Bincurang,” ujarnya, Selasa (19/5).

Meski dikenal keras dan kerap menyebabkan cedera hingga patah tulang, Adu Bincurang disebut tidak pernah memicu permusuhan antarpeserta. Nilai kebersamaan justru menjadi hal utama yang dijaga masyarakat Cimande.

“Kalau ada yang cedera, ya diurus bersama, tidak pernah sampai ke meja hijau,” katanya.

Namun, Aki Didih menilai perubahan zaman mulai memengaruhi cara generasi muda memaknai tradisi tersebut.

Ia melihat sebagian anak muda kini lebih mengedepankan emosi dan gaya dibanding memahami nilai budaya serta adab yang menjadi ruh permainan.

“Sekarang banyak yang hanya mengandalkan tenaga, budayanya kadang hilang,” tegasnya.

Baca Juga:Jateng Dinilai Paling Siap dalam Mendukung Program 3 Juta RumahDigitalisasi Arsip Jadi Tantangan Serius, FISIP Unpas Siapkan Mahasiswa Hadapi Era AI dan Paperless

Meski begitu, ia memastikan hingga kini tradisi Adu Bincurang tetap berlangsung kondusif dan tidak menimbulkan konflik antarpemain. Keributan justru lebih sering muncul dari penonton atau pendukung di luar arena.

Menurut Aki Didih, Adu Bincurang menjadi tradisi khas yang hanya dimiliki Cimande dan telah lama menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Kabupaten Bogor.

Untuk menjaga tradisi itu tetap hidup, masyarakat Cimande rutin menggelar festival budaya dan pelatihan pencak silat bagi anak-anak setiap pekan.

0 Komentar