Di Tengah Ekonomi Gonjang-Ganjing, Tumpukan Duit Triliunan Jadi Sorotan

Di Tengah Ekonomi Gonjang-Ganjing, Tumpukan Duit Triliunan Jadi Sorotan
Di Tengah Ekonomi Gonjang-Ganjing, Tumpukan Duit Triliunan Jadi Sorotan
0 Komentar

CIMAHI JABAR EKSPRES – Di tengah kondisi ekonomi yang lagi bikin banyak orang deg-degan, publik malah disuguhi pemandangan tak biasa, tumpukan uang tunai Rp49 triliun dipamerkan ke depan kamera. Jumlahnya fantastis, visualnya mencolok, dan langsung ramai dibahas di media sosial.

Masalahnya, bukan cuma soal nominal uangnya yang bikin melongo. Banyak orang justru mempertanyakan hal yang lebih mendasar, uang itu sebenarnya milik siapa, berasal dari kasus apa, dan kenapa penjelasannya terasa belum sepenuhnya terang?

Momen tersebut muncul saat nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar AS dan pasar saham bergerak tak stabil. Di situasi seperti itu, perhatian publik otomatis sensitif terhadap setiap langkah pemerintah, termasuk soal komunikasi politik dan ekonomi.

Baca Juga:Cegah Penyimpangan, Kades dan BPD Se-Tasikmalaya Dibekali Ilmu Tata Kelola DesaNGERI! Guru di Cariu Bogor Dibegal, Korban Ditodong Sajam hingga Didorong ke Jurang

Pengamat Politik Dan Ekonomi dari UGM Sekaligus ketua KAGAMA Cirebon, Heru Subagia, menilai kemunculan uang sitaan dalam jumlah jumbo itu bukan sekadar seremoni biasa. Menurut dia, timing kemunculannya justru memunculkan banyak spekulasi baru di tengah kondisi pasar yang sedang rapuh.

“Yang menarik, dalam kondisi rupiah mendekati Rp18 ribu terhadap dolar AS dan IHSG merosot di bawah 7.000, tiba-tiba muncul fenomena uang tunai Rp49 triliun yang dipamerkan secara bombastis,” kata Heru, saat ditemui di Cimahi, Senin (18/5/26).

Buat sebagian masyarakat, visual gunungan uang memang gampang mencuri perhatian. Tapi di balik itu, muncul pertanyaan yang lebih serius. Publik merasa pemerintah lebih sibuk menunjukkan fisik uang ketimbang membuka informasi lengkap mengenai kasus hukumnya.

Menurut Heru, inti persoalannya bukan terletak pada besar kecilnya nominal sitaan. Yang jadi sorotan justru transparansi. Sampai sekarang, publik belum mendapatkan penjelasan rinci soal siapa pemilik rekening jumbo tersebut, bagaimana proses penyitaannya, hingga status hukum uang itu.

“Ketika masyarakat terus memburu sebenarnya siapa pemilik rekening-rekening triliunan rupiah itu, pemerintah justru hanya menunjukkan uangnya tanpa membuka secara jelas siapa pihak yang dirampas,” ujarnya.

Situasi itu dinilai berpotensi memunculkan persepsi liar di tengah masyarakat. Di era media sosial, informasi yang setengah terbuka justru gampang berkembang jadi berbagai asumsi. Mulai dari dugaan uang hasil korupsi, dana simpanan tertentu, sampai spekulasi ekstrem yang ikut beredar di ruang publik.

0 Komentar