Sementara di Kota Bandung untuk industri tekstil kategori besar sedang ada di angka 218. Lalu industri pakaian jadinya di angka 503. Sedangkan dalam kategori mikro kecil tercatat ada 426 industri di Kota Bandung. Ditambah 1.223 industri pakaian jadi.
Harpan percaya bahwa stok bahan limbah denim akan terus melimpah. Artinya ia tidak akan kebingungan untuk kebutuhan produksinya.
Ia biasanya mendapatkan bahan baku itu dari para pengepul limbah denim di Kota Bandung. Misalnya dari Pasar Caringin atau dari pengepul yang memang sudah langganan. Biasanya Harpan membeli dalam bentuk karungan.
Baca Juga:Terbantu Program JKN, Enok Bisa Jalani Perawatan Tanpa Khawatir Biaya Pengobatan20 Ribu Kendaraan Lintasi Jalur Puncak Bogor, One Way ke Arah Jakarta Diberlakukan
Dan limbah yang dicari Harpan bukanlah limbah kain perca. Namun lebih suka pada limbah yang memang pakaian bekas berbahan denim. “Yang dicari itu jeans bekas atau jaket bekas yang memang limbah atau sudah tak dipakai. Bukan perca dari kain baru,” katanya.
Di sisi lain, denim adalah bahan yang cukup berkualitas. Bahan ini cukup tahan lama. Nyaris seperti kulit. “Bahkan denim itu makin lama makin bagus,” sebutnya.
*Trial and Error, Satu Motif satu Sepatu*
Dari karungan limbah denim itu, Harpan kemudian menyulapnya menjadi karya yang luar biasa. Yaitu sepatu berbagai bentuk yang unik. Menariknya lagi, sepatu yang dihasilkan adalah produk ekslusif. Artinya satu motif hanya ada satu sepatu.
Harpan menceritakan, produk unik itu tidak lahir begitu saja. Produk yang dibuat sempat beberapa kali gagal. Hasil jadi tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Namun Harpan tidak menyerah. Desain dan produksi terus dibenahi. Hingga produk yang dihasilkan berkualitas dan layak jual. Pola dan produksi produk berkualitas itu baru stabil di 2023, dari mulai merintis usaha sejak 2020.
“Sempat trial and error juga. Jahitan kurang bagus, desain kurang menarik. Sampai kami temukan produk yang layak jual,” katanya.
Harpan menambahkan, ada beberapa alasan produk sepatunya dibuat ekslusif. Pertama karena memang faktor stok bahan. Sepatu-sepatu itu dibuat dari pakaian bekas. Dari satu celana jeans misalnya, Harpan akan mencari pola potongan yang unik. Kemudian dibuat menjadi model dasar sepatu. Biasanya dari potongan saku depan dan belakang.
