Sempat Dibilang Gila, Harpan Sukses Sulap Limbah Denim jadi Sepatu Kualitas Global

Sempat Dibilang Gila, Harpan Sukses Sulap Limbah Denim jadi Sepatu Kualitas Global
UNIK : Harpan menunjukkan beberapa produk sepatu berbahan denim kreasinya. (Hendrik Muchlison/JE)
0 Komentar

Jabar Ekspres – Harpan sempat dibilang gila saat banting setir merintis usaha sepatu. Namun kini produk JRCD Harpano 1979 miliknya laku keras hingga mendunia. Yang unik, sepatu produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kota Bandung itu berbahan dasar limbah denim.

Cerita pria 46 tahun itu dimulai 2020 lalu. Kala itu Harpan adalah seorang karyawan di salah satu Bank Asing. Secara gaji sebenarnya juga dibilang tidak buruk. Bahkan cenderung baik, karena posisi sudah beberapa tingkat dari karyawan biasa.

Namun warga Kota Bandung itu membuat keputusan berani. Ia resign dan banting setir untuk memulai usaha mandiri. Yaitu membuat sepatu. “Bagi saya, lebih menguntungkan usaha sendiri dari pada kerja untuk orang lain,” katanya kepada Jabar Ekspres, Minggu (10/5).

Baca Juga:Terbantu Program JKN, Enok Bisa Jalani Perawatan Tanpa Khawatir Biaya Pengobatan20 Ribu Kendaraan Lintasi Jalur Puncak Bogor, One Way ke Arah Jakarta Diberlakukan

Bahkan Harpan sampai dibilang gila oleh rekan-rekanya. Karena selain memutuskan resign, usaha yang dipilih juga lain dari pada yang lain. Ia tidak hanya merintis usaha sepatu, tapi memilih produk sepatu yang dibuat dari bahan dasar limbah denim. “Karena saat itu belum ada orang bikin (sepatu dari limbah denim.red). Saya coba cuek aja, yang penting konsisten dengan tekad,” imbuhnya.

Peluang Limbah Denim

Selain nekad, Harpan sebenarnya membaca peluang manis dari usaha sepatu berbahan dasar limbah denim. Limbah itu gampang dijumpai dan jumlahnya banyak. Sayang jika tidak dimanfaatkan.

Usaha upcycle itu juga memiliki semangat menjaga lingkungan. Yaitu mengurangi populasi limbah spesifik denim. Selain itu Harpan juga meyakini bahwa fashion sepatu adalah usaha yang akan tetap bertahan dan tidak akan tergerus zaman.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat, persentase limbah tekstil termasuk denim di Indonesia menyumbang sekitar 2,63 persen total sampah. Atau kalau ditaksir, timbunan limbah tekstil di Indonesia tembus 2,3 juta ton per tahun.

Tingginya limbah tekstil itu karena juga banyaknya usaha di bidang tekstil di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) berdasarkan KBLI 2020 mencatat setidaknya ada 1.910 industri tekstil kategori besar – sedang di Indonesia. Lalu juga ada 1.865 industri pakaian jadi.

0 Komentar