Antrean Haji Indonesia Paling Sabar di Dunia

Arsip foto - Jamaah calon haji bersiap melaksanakan Shalat Jumat di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Jumat
Arsip foto - Jamaah calon haji bersiap melaksanakan Shalat Jumat di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Jumat (9/5/2025). (ANTARA FOTO/Andika Wahyu/agr)
0 Komentar

Setiap tahun tetap ada orang datang ke bank untuk menyetor Rp25 juta sebagai setoran awal. Kadang mereka datang dengan wajah biasa saja, seperti sedang mengurus administrasi sederhana. Padahal sebenarnya mereka sedang membayar sesuatu yang belum tentu bisa mereka nikmati dalam waktu dekat. Mereka sedang menyatakan keimanan, dari rukun keislaman yang mungkin baru tiba 20 tahun lagi ditunaikan.

Tapi, uang itu tidak diam menunggu seperti penyetornya. Seluruh dana setoran yang terhimpun dari jutaan calon peserta haji itu kini mencapai Rp180,72 triliun per Desember 2025, dikelola negara, diputar dalam instrumen syariah, sebagian hasilnya dikembalikan sebagai subsidi perjalanan.

Tahun ini, dari total biaya haji Rp87,4 juta per orang, tiap peserta hanya membayar langsung Rp54,19 juta. Sisanya, sekitar Rp33,2 juta, ditutup dari nilai manfaat dana yang selama ini mengantre bersama pemiliknya. Oleh karena itu, berhaji bagi masyarakat Indonesia, terasa begitu emosional.

Baca Juga:Tabrakan Kereta dan KRL di Bekasi TimurReshuffle Kabinet Merah Putih

Haji bukan hanya milik muslim yang mampu secara ekonomi. Ia menjadi kumpulan cerita tentang orang yang mencicil rindu sedikit demi sedikit. Tentang pedagang kecil yang menyimpan keuntungan harian. Tentang pensiunan yang akhirnya punya tabungan cukup. Tentang pasangan tua yang diam-diam saling menjaga kesehatan karena takut salah satu tidak sempat berangkat.

Tahun ini saja, satu dari empat peserta haji yang berangkat adalah lansia. Ya, barangkali mereka sudah menunggu cukup lama hingga rambutnya sampai-sampai berganti warna sebelum nama mereka dipanggil.

Kadang pembicaraan tentang antrean haji terlalu sibuk pada angka dan regulasi. Memang semua itu penting. Kuota perlu diatur. Sistem harus transparan. Negara wajib memastikan pengelolaan dana haji tetap aman dan akuntabel.

Panjangnya antrean hari ini pun sebagian adalah warisan kebijakan lama selama hampir satu dekade sebelum 2014. Bank-bank syariah pada saat itu menawarkan dana talangan yang memungkinkan orang mendapat nomor porsi haji meski belum sepenuhnya mampu membayar penuh. Akhirnya, permintaan meledak, antrean membengkak, dan efeknya masih terasa sampai sekarang.

Tetapi, di balik seluruh mekanisme pesimis itu, ada sesuatu yang jauh lebih kuat: dialah iman. Yang mampu menggerakkan hati seseorang untuk melangkah dalam antrean, semustahil apapun cara pergi ke tanah suci.

0 Komentar