JABAR EKSPRES – Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono mengingatkan pentingnya percepatan imunisasi anak untuk mencegah munculnya kembali penyakit berbahaya yang sebenarnya dapat dicegah sejak dini.
Menurutnya, penurunan cakupan imunisasi saat pandemi COVID-19 menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus penyakit menular, termasuk Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di sejumlah daerah.
Hal itu disampaikan Dante saat menghadiri kegiatan terkait percepatan imunisasi dan penanganan anak zero dose di Kota Bandung.
Baca Juga:Kasus Campak di Jawa Barat Menurun, Dinkes Ingatkan Pentingnya ImunisasiPemkab Tasikmalaya Tetapkan KLB Campak, Imunisasi Massal Digelar 13-18 April 2026
Ia menjelaskan, selama pandemi COVID-19 perhatian pemerintah dan masyarakat lebih terfokus pada penanganan wabah corona sehingga pelayanan imunisasi rutin anak sempat mengalami penurunan signifikan di berbagai daerah.
“Ketika pandemi COVID-19 terjadi, kita terkonsentrasi pada penanganan COVID. Akibatnya cakupan imunisasi di pos-pos pelayanan turun dan dampaknya baru terasa beberapa tahun kemudian, salah satunya muncul KLB campak,” ujar Dante, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan ancaman serius berupa meningkatnya jumlah anak kategori zero dose, yakni anak-anak yang sama sekali belum pernah mendapatkan imunisasi dasar seperti campak, polio, maupun DPT.
Dante menyebut anak-anak zero dose sangat rentan terserang penyakit karena tidak memiliki perlindungan imun tubuh.
“Anak-anak zero dose itu ibaratnya seperti telanjang karena tidak punya perlindungan terhadap penyakit,” katanya.
Ia menilai, keputusan seorang anak mendapatkan imunisasi sepenuhnya berada di tangan orang tua. Karena itu, edukasi kepada masyarakat dinilai menjadi langkah paling penting untuk meningkatkan cakupan imunisasi nasional.
Wamenkes juga menyoroti masih maraknya hoaks terkait vaksinasi yang membuat sebagian orang tua ragu memberikan imunisasi kepada anaknya. Salah satu isu yang paling sering muncul ialah tudingan bahwa vaksin dapat menyebabkan autisme.
Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Tetapkan KLB Campak, Imunisasi Massal Digelar 13-18 April 2026Fakta Mengejutkan Kasus Campak di Cimahi, Dinkes Ungkap Mayoritas Belum Imunisasi!
Padahal, kata Dante, berbagai penelitian ilmiah di dunia telah membuktikan bahwa vaksin aman dan tidak berkaitan dengan autisme.
“Jutaan penelitian empiris di seluruh dunia menunjukkan imunisasi tidak menyebabkan autisme. Jadi masyarakat tidak perlu takut,” tegasnya.
Selain hoaks kesehatan, isu agama juga disebut masih menjadi tantangan dalam program imunisasi. Namun pemerintah bersama para tokoh agama terus memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa vaksin yang digunakan aman dan telah melalui proses pengujian.
