Viral Asap Sampah Rancamanyar, Warga Keluhkan Polusi hingga Ancaman ISPA

Aktivitas pembakaran sampah di Kampung Cembul Pojok, Desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung
Aktivitas pembakaran sampah di Kampung Cembul Pojok, Desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Rabu (7/5/2026). Foto Agni Ilman Darmawan/Jabar Ekspres/
0 Komentar

“Solusinya minta dikarungi nanti ditarik sama DLH. Ke depannya yang bisa dipilah dipilah, yang tidak bisa dipilah dikarungi lalu ditarik,” katanya.

Bunyamin mengungkapkan usulan penggunaan mesin insinerator sebenarnya pernah diajukan. Namun, rencana itu terkendala keterbatasan lahan.

“Dulu pernah diajukan insinerator, cuma kendalanya di tempat, enggak ada lahan,” ujarnya.

Baca Juga:Pertamina Perkuat Aliansi Strategis untuk Dorong Inovasi Digital di Sektor Hulu MigasWagub Jateng Kawal Kasus Kekerasan Seksual di Pati, Jamin Pendidikan dan Pendampingan Hukum Korban

Selain mengelola sampah warga, petugas TPS juga rutin membersihkan sampah liar di pinggir jalan untuk mencegah penyumbatan saluran air dan banjir.

“Kadang saya ambil juga sampah di pinggir jalan. Ada yang bawa sampah naik motor lalu dibuang sembarangan, saya pungutin,” katanya.

Terkait isu adanya bayi yang disebut terkena ISPA akibat asap pembakaran, Bunyamin membantah tudingan tersebut sepenuhnya berasal dari lingkungan TPS.

“Katanya ada bayi kena ISPA gara-gara asap. Padahal dari lahir juga katanya begitu, dan di rumahnya perokok semua,” ucapnya.

Meski demikian, ia tetap mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, terutama di pinggir jalan.

“Kalau pesan saya, yang suka buang sampah di pinggir jalan, tolong jangan buang sampah sembarangan,” tegasnya.

Sementara itu, relawan kebersihan setempat, Ertandi, menjelaskan asap pekat yang viral diperparah kondisi sampah basah pascabanjir sehingga menghasilkan asap lebih banyak saat dibakar secara terbuka.

Baca Juga:Kemendikdasmen Kolaborasikan Sejumlah Program dengan DBL Indonesia, Salah Satunya Super TeacherGuru Honorer Tasikmalaya Desak Kejelasan Status dan Gaji, DPRD Siap Dorong ke Pusat

“Penumpukan sampah ini banyak yang basah akibat banjir kemarin. Jadi saat dibakar otomatis asapnya menyebar ke warga karena pembakarannya tidak ada cerobong,” jelasnya.

Ia menegaskan para relawan selama ini berupaya menjaga lingkungan dengan membersihkan sampah liar di jalan agar banjir tidak kembali meluas ke permukiman warga.

“Kadang dari petugas juga kita pungutin sampah di jalan supaya mencegah banjir masuk ke area warga. Kalau upah dari warga, seikhlasnya,” katanya.

Terkait isu adanya sampah pabrik yang dibuang ke lokasi tersebut, Ertandi membantah kabar tersebut. Menurutnya, TPS hanya menerima sampah rumah tangga dan tidak menerima limbah pabrik.

“Kalau pembuangan dari pabrik di sini enggak menerima. Kalau bahan sepatu atau kimia lebih pekat asapnya. Jadi isu pabrik buang ke sini itu tidak benar,” tegasnya.

0 Komentar