Langit Nusantara dan Pertaruhan Strategis di Indo-Pasifik

Ilustrasi - Petugas berdiri di dekat layar jadwal penerbangan domestik dan internasional di ruang tunggu Banda
Ilustrasi - Petugas berdiri di dekat layar jadwal penerbangan domestik dan internasional di ruang tunggu Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (10/4/2026). Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan pemerintah membatasi kenaikan tarif tiket pesawat domestik kelas ekonomi maksimal 13 persen untuk strategi penguatan penerbangan domestik dalam menjaga mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi nasional di tengah tekanan global, kenaikan harga avtur dan gangguan konektivitas akibat penutupan ruang udara di sejumlah negara. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nym.
0 Komentar

Dituntut Proaktif

Dengan posisi geografisnya yang strategis di persimpangan jalur perdagangan dan militer global, Indonesia dituntut untuk tidak bersikap reaktif semata, tapi juga dituntut untuk proaktif dalam merumuskan norma, baik di tingkat regional maupun global.

Upaya tersebut dapat dilakukan melalui forum multilateral, termasuk memperkuat peran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), guna mendorong kejelasan aturan terkait penggunaan ruang udara dalam konteks militer.

Pada ujungnya, polemik ihwal blanket overflight clearance menjadi pengingat bahwa dalam geopolitik modern, ruang yang tampak kosong justru sering kali menjadi ruang yang malah paling diperebutkan.

Baca Juga:Kekerasan di "Daycare" dan Tanggung Jawab Negara Atas Pelindungan AnakSambut Imlek Tahun Kuda, Pos Indonesia Terbitkan Prangko Edisi Khusus

Langit, yang bagi publik mungkin sekadar hamparan biru tanpa batas, bagi para perancang strategi adalah wilayah yang sarat makna dan kepentingan.

Jika Indonesia akhirnya mampu mengelola isu blanket overflight clearance ini dengan cermat, –dengan cara menjaga keseimbangan antara kedaulatan, transparansi, dan kerja sama– maka bukan tidak mungkin justru bisa memperkuat posisinya sebagai jangkar stabilitas di kawasan Indo-Pasifik. Namun, jika tidak, setiap riak kecil terkait isu ini berpotensi berubah menjadi gelombang besar yang sulit dikendalikan dan sangat merepotkan. (ANTARA)

0 Komentar