JABAR EKSPRES – Ancaman El Nino tak hanya membawa kemarau panjang, tetapi juga membuka kerentanan baru di hutan perbatasan Cisarua-Lembang yang selama ini luput dari pengawasan intensif.
Pasalnya, vegetasi berupa ilalang yang mudah mengering memperbesar risiko kebakaran, terutama saat suhu meningkat dan angin kencang.
Menanggapi hal tersebut, Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lembang, Cucu Supriatna mengatakan, kawasan kedua wilayah itu kini menjadi perhatian Perum Perhutani BKPH Lembang setelah masuk dalam peta titik rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Baca Juga:Ironi Ketenagakerjaan di Bandung Barat, Angka Turun tapi Pengangguran BertambahJelang Idul Adha, 61 Petugas Sisir 270 Lapak Hewan Kurban di Bandung Barat
“Wilayah yang kami kelola mencapai sekitar 4.100 hektare terbagi dalam tiga Resort Pengelolaan Hutan (RPH), yakni Lembang, Cisarua, dan Cikole,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (27/4/2026).
Ia menjelaskan, selain faktor alam, kebakaran kerap dipicu oleh kelalaian manusia. Aktivitas seperti mencari burung dengan menyalakan api kecil kerap menjadi awal munculnya titik api.
“Sering kali apinya ditinggal karena dianggap sudah padam, padahal masih ada bara. Saat kemarau dan angin kencang, itu bisa langsung membesar,” jelasnya.
Ironisnya, kawasan yang tak digarap dan tidak masuk skema agroforestry tersebut justru sulit diawasi karena minimnya aktivitas masyarakat.
“Wilayah yang tidak digarap itu pengawasannya lebih sulit karena tidak banyak orang beraktivitas,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, Perhutani memperkuat kolaborasi dengan Polisi Kehutanan (Polhutan), Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), serta unsur Forkopimcam.
Selain itu, upaya pencegahan dilakukan melalui pemasangan plang imbauan dan sosialisasi langsung kepada masyarakat, terutama menjelang puncak musim kemarau.
Baca Juga:Dorong Pemerataan Ekonomi, Wamentan Tekankan Peran Strategis Desa65 Perguruan Ramaikan Lebaran Jawara Jampang, Bersiap Angkat Silat ke Puncak Kejayaan
“Kami sudah pasang plang peringatan dan akan diperbanyak. Sosialisasi juga terus dilakukan ke masyarakat sekitar hutan,” tambahnya.
Meski terdapat titik rawan, Perhutani memastikan kondisi tutupan hutan di BKPH Lembang secara umum masih terjaga baik dengan dominasi tegakan pinus dan kawasan hijau yang relatif lestari.
“Secara umum tutupan lahan masih bagus, tapi titik rawan ini tetap jadi perhatian utama,” tandasnya. (Wit)
