JABAR EKSPRES – Kenaikan harga plastik di pasar, yang dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, mulai terasa hingga ke tingkat lokal. Di Kota Cimahi, Jawa Barat, fenomena ini berdampak pada menurunnya setoran sampah plastik di Bank Sampah Induk Cimahi (Samici) dalam tiga bulan terakhir.
Data Samici mencatat, total setoran sampah plastik pada Januari 2026 mencapai 27.517,9 kilogram, dengan 959,5 kilogram di antaranya merupakan kantong plastik atau kresek.
Angka itu turun pada Februari menjadi 23.050,6 kilogram, dengan kresek 710,5 kilogram. Penurunan berlanjut pada Maret, yakni menjadi 22.619,5 kilogram, termasuk 647,1 kilogram sampah kresek.
Baca Juga:Imbas Geopolitik Dunia Harga Plastik Naik, Ini Strategi DLH Cimahi Tekan SampahHarga Plastik Menggila, Begini Kata Menteri UMKM!
“Penyetoran sampah plastik baik dari Bank Sampah Unit maupun dari masyarakat sekitar itu terjadi penurunan. Kan kita rekapnya bulanan, jadi dari Januari sampai Maret itu terus turun,” kata Koordinator Bank Samici, Dewi Eriyanti, saat ditemui di kantor Samici, Jalan KH Usman Dhomiri, Cimahi, Selasa, (21/4/26).
Dewi menjelaskan, penurunan ini berkaitan dengan berkurangnya penggunaan plastik di masyarakat, terutama plastik sekali pakai. Kenaikan harga plastik di pasaran, yang dipengaruhi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, membuat masyarakat lebih hemat dalam menggunakan plastik.
“Tentu ada karena kenaikan harga plastik dari pasaran otomatis penggunaan plastik juga berkurang. Dampaknya jadi penyetoran sampah plastik juga berkurang karena mungkin plastik bekas dipakai lagi untuk pewadahan dan lain-lain, jadi enggak sekali pakai,” ujarnya.
Di sisi lain, kondisi tersebut justru dinilai membawa dampak positif bagi lingkungan. Berkurangnya penggunaan plastik secara langsung menekan volume sampah yang dihasilkan.
“Bagus karena jadinya ada pengurangan sampah otomatis dengan meningkatnya harga plastik di pasaran. Sampah yang terbuang berkurang, tumpukan sampah berkurang,” kata Dewi.
Bank Samici yang berdiri sejak 2014 saat ini tercatat memiliki sekitar 2.500 nasabah hingga 2025. Dari jumlah itu, sekitar 800 merupakan Bank Sampah Unit (BSU), sementara sisanya adalah nasabah individu, meski tidak semuanya aktif.
“Nasabah ada sekitar 2.500 sampai tahun 2025. BSU itu ada sekitar 800 unit dan sisanya individu atau masyarakat. Tapi tidak semuanya aktif,” ujarnya.
Baca Juga:Harga Plastik di Pasar Bojonggede Melonjak hingga 100 Persen!Plastik Mahal, Pedagang Padalarang Kian Tercekik Biaya Operasional
Sejak awal, Samici dibentuk untuk membantu mengurangi beban sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Masyarakat didorong memilah sampah sejak dari rumah, terutama jenis anorganik yang memiliki nilai ekonomi.
