“Saat ini operatornya belum ada. Operator pasti melihat load factor, kalau macet dan penumpangnya sedikit, tentu tidak menarik. Makanya kami benahi dulu. Jadi ini strategi kami. Tidak langsung membuka K3, tapi kami siapkan dulu kondisi jalannya dan hal pendukung lainnya,” katanya.
Di samping mendorong masuknya operator, Dishub bersama Pemerintah Kota Bogor pun turut menyiapkan opsi subsidi untuk memastikan koridor baru dapat berjalan optimal di fase awal, sebelum secara bertahap dilepas menjadi lebih mandiri.
“Pemerintah juga punya keterbatasan anggaran. Bisa saja nanti ada skema subsidi untuk koridor baru, sementara koridor yang sudah kuat pendapatannya dikurangi subsidinya dahulu,” ucapnya.
Baca Juga:Mulai 21 April 2026, Parkir di Jalan Suryakencana-Siliwangi Bogor Dipindah ke Lajur Kanan! Jam Rawan Begal hingga Curanmor Dipetakan, Polisi Bogor Kota Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan
Saat ini, Biskita Trans Pakuan baru melayani empat koridor aktif dari total enam koridor yang direncanakan, yakni K1 (Terminal Bubulak–Cidangiang), K2 (Ciawi–Terminal Bubulak), K5 (Stasiun Bogor–Terminal Ciparigi), dan K6 (Stasiun Bogor–Parung Banteng).
Adapun minat masyarakat terhadap layanan Biskita Trans Pakuan terus meningkat. Sejak Januari hingga Maret 2026, jumlah penumpang tercatat mencapai 621.556 orang dengan total pendapatan sekitar Rp2,5 miliar.
Melihat tren tersebut, operasional Koridor 3 dinilai memiliki potensi besar, terlebih lagi dengan rute yang akan melewati kawasan Jalan Suryakencana yang merupakan salah satu destinasi wisata kuliner yang ramai dikunjungi, terutama saat akhir pekan.
“Semua ini kami lakukan bertahap supaya masyarakat juga dapat beralih ke angkutan massal,” ujarnya.
